Sejak saat itu, rakit menjadi andalan. Moda transportasinya berkembang dengan perahu kecil atau sampan. Ada yang digerakkan dengan dayung, lalu jika pemiliknya mampu akan dilengkapi dengan mesin.

"Nah dulu itu, orangtua antar anaknya masing-masing pakai rakit terus perahu. Karena semakin banyak, akhirnya pihak sekolah membuatkan rakit berukuran agak besar yang bisa mengangkut 20 anak. Jadi sampai sekarang itu berlanjut, dikoordinir sama warga pemberangkatannya," kata Agus.

Bolak-balik mengantarkan puluhan bocah, rakit yang dibuat cuma mampu bertahan beberapa tahun saja. Bambu mengalami kerusakan seiring berjalannya usia ditambah kondisi cuaca. Sampai saat ini, terhitung lebih dari enam rakit yang sudah dipakai untuk menyeberangkan anak-anak dan warga.

"Ya lebih dari enam mungkin yang dipakai, karena kan terus disimpan di air, lalu kepanasan jadi bambunya gampang rusak. Belum lagi tambangnya, kalau enggak ada tambang agar berbahaya juga meskipun ada dayung," kata Agus.

Imam, Dian, dan belasan bocah lainnya tetap bertaruh nyawa kala menyeberangi waduk dengan kedalaman lebih dari sepuluh meter, sekalipun mereka sudah terbiasa. Belum lagi jika musim hujan tiba, risiko yang mengintai keselamatan mereka kian meningkat.

Bocah-bocah polos itu mulai bersiap berangkat ke sekolah di jam 05.30, lalu sekitar pukul 06.00 mereka sudah harus bersiap di dermaga. Jika terlambat, praktis mereka memilih tak bersekolah.

"Berangkat jam 6 pagi, soalnya jam 6.15 harus sudah di sekolah. Pulang jam 12 siang, dijemput lagi naik rakit. Kalau jalan capek, mutar terus panas," kata Imam.