Jika musim hujan tiba, mereka akan membawa payung ke sekolah. Kemudian sepatu akan dimasukkan ke keresek agar tak kebasahan. Namun kebanyakan, bocah-bocah itu lebih memilih bolos sekolah daripada harus hujan-hujanan.
"Ya kadang sekolah, kadang enggak. Soalnya kalau hujan suka malas," kata Imam malu-malu.
Mereka berharap pemerintah mau menengok kondisi mereka yang teramat membutuhkan akses alternatif berbentuk jembatan, baik jembatan gantung maupun jembatan permanen di atas aliran Waduk Saguling, Sungai Citarum.
"Ya harapannya sama pemerintah atau pihak swasta bisa dibuatkan jembatan, minimal jembatan apung. Jadi anak-anak kami enggak harus naik rakit lagi, warga juga bisa lebih leluasa aktivitasnya," kata Agus.
Kepala SDN Budiharja, Taufik, menyebut sekolah berperan memfasilitasi kebutuhan transportasi siswanya. Mereka bahkan sempat menyediakan pelampung melengkapi unsur keselamatan menempuh perjalanan air para siswa. "Iya, dari dulu. Dari mulai ada Saguling, karena anak-anaknya banyak yang sekolah ke sini maka dibuat rakit oleh sekolah. Biayanya juga dari sekolah, bahkan sempat ada pelampungnya tapi sudah rusak mungkin ya. Jadi sekarang alakadarnya," kata Taufik.
Sama seperti warga, Taufik juga meminta ada sentuhan dari pemerintah maupun swasta agar bisa dibuatkan jembatan. Tak cuma bagi siswa, jembatan tentunya akan memudahkan akses warga setempat.
"Di sini ada MA, ada SMP, dari sana kan banyak yang sekolah di sana. Makanya saya mohon kepada pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi maupun pusat, itu bisa mengadakan atau memfasilitasi masalah jembatan tersebut," kata Taufik.