UNICEF menjelaskan bahwa karhutla dapat melepaskan campuran polutan beracun, termasuk karbon monoksida, nitrogen oksida, senyawa organik volatil, logam berat, dan partikel halus (PM2.5). Partikel yang dibawa oleh asap kebakaran hutan membawa senyawa yang merusak paru-paru anak yang sedang berkembang. Ini bisa memicu peradangan yang hebat.

Menurut dokter Spesialis Pulmonologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Sumardi, Sp PD-KP, mengatakan kabut asap berpengaruh pada tumbuh kembang anak, termasuk mengganggu perkembangan otak sehingga kecerdasan anak bisa terdampak.

Kabut asap juga bisa mengganggu tumbuh kembang bayi di dalam kandungan. Paparan kabut asap bisa membahayakan ibu hamil dan memicu gangguan hipoksia, yang membuat pasokan oksigen dalam tubuh berkurang.

"Perkembangan otak maupun organnya terganggu dan kebanyakan terlahir dengan berat badan lahir rendah," tutur dr Sumardi, dikutip dari laman UGM.

Untuk melindungi anak dari potensi paparan asap, penting untuk tetap berada di dalam ruangan, menjaga kebersihan udara di rumah, memperhatikan kesehatan, dan mengedukasi soal pelestarian lingkungan.