NADIKABAR.COM — Analis intelijen, pertahanan, dan keamanan Ngasiman Djoyonegoro menilai Komjen Pol. Suyudi Ario Seto dapat melanjutkan transformasi Polri secara berkelanjutan setelah mendapat persetujuan DPR RI sebagai Kapolri.

Ngasiman dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis, mengatakan gagasan "Polisi Bersama Masyarakat" yang diusung Suyudi menunjukkan perkembangan cara pandang dalam transformasi Polri yang sebelumnya dijalankan pada masa kepemimpinan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.

DPR RI pada Kamis menyetujui Suyudi sebagai Kapolri menggantikan Listyo Sigit setelah sebelumnya Komisi III DPR RI menyetujui Suyudi secara aklamasi dalam uji kelayakan dan kepatutan.

Ngasiman, yang akrab disapa Simon, menilai istilah "bersama masyarakat" yang diusung Suyudi memiliki makna lebih dari sekadar perubahan slogan.

Menurut dia, gagasan tersebut menunjukkan pergeseran cara pandang dari menempatkan masyarakat sebagai objek pelayanan menjadi bagian dari ekosistem keamanan.

"Polisi bukan hanya hadir untuk masyarakat, tetapi bekerja bersama masyarakat. Artinya keamanan tidak mungkin hanya dibebankan kepada polisi. Ada masyarakat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, dunia usaha, dan berbagai elemen lain yang semuanya punya peran," katanya.

Simon menilai tantangan kepemimpinan Polri ke depan bukan hanya memperkuat penegakan hukum, melainkan juga memastikan masyarakat merasakan pelayanan kepolisian yang cepat, adil, transparan, dan mudah diakses.

Dalam konteks tersebut, ia mengaitkan gagasan "Polisi Bersama Masyarakat" dengan konsep "Sabuk Kamtibmas" yang menempatkan keamanan sebagai ekosistem bersama.

Menurut dia, keamanan tidak cukup dibangun melalui pendekatan yang hanya mengandalkan aparat, tetapi juga perlu diperkuat dengan partisipasi masyarakat dan berbagai simpul sosial.

"Sabuk Kamtibmas itu melihat keamanan sebagai sesuatu yang berlapis. Polisi tetap menjadi institusi yang punya kewenangan penegakan hukum, tetapi masyarakat juga menjadi bagian dari sistem keamanan. Bhabinkamtibmas, Polmas, tokoh masyarakat, modal sosial, teknologi, intelijen dan sistem deteksi dini semuanya bisa menjadi bagian dari sabuk itu," katanya.

Simon juga menilai pengalaman Suyudi di berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), dapat menjadi modal dalam menghadapi kejahatan dan ancaman keamanan yang semakin lintas sektor.

Namun, ia mengingatkan tantangan kepemimpinan Polri berikutnya adalah memastikan berbagai gagasan tersebut tidak berhenti menjadi jargon.

"Polri Presisi sudah membangun fondasi, regulasi semakin memberikan ruang, pengawasan harus terus diperkuat, dan sekarang kepemimpinan baru punya tugas membawa semua itu ke tahap berikutnya. Jangan mulai dari nol. Lanjutkan yang sudah baik, koreksi yang masih kurang, dan pastikan masyarakat benar-benar merasakan perubahan itu," ujarnya.

Dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI, Kamis, Suyudi mengusung "Polisi Bersama Masyarakat" sebagai tema besar arah kepemimpinannya di Polri.