Andovi sehari-hari biasa menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Inggris, sedangkan tokoh Jonas hanya menggunakan bahasa Indonesia.
"Ada momen-momen di mana ada di adegan-adegan tertentu di film ini, yang mungkin kalian nonton, di mana Mas Nugros ngomongnya dia pertama ngomong, rasakan. Tapi lama-lama dia tahu, dia ngomongnya 'Andovi, feel it. Feel it. Ini in this your grandma just died’," katanya.
"Jadi Mas Nugros pun tahu, mungkin itu trigger-trigger saya untuk mikir tuh mungkin di situ. Tapi enggak, kebetulan bahasa Indonesia saya juga lumayan oke menurut saya. But it was hard ya," ia menambahkan.
Andovi berusaha mendalami karakter Jonas Prakoso sebelum pemeran lain mengikuti pembacaan naskah.
Ia juga menjalani pelatihan akting dan menerima buku Machiavelli dan Immanuel Kant dari sutradara Fajar Nugros untuk dipelajari.
"Emang disuruh baca filosofi tiba-tiba kan. Harus mengerti filosofi pemimpin yang memenangkan segalanya itu pragmatis, sama pemimpin yang ingin menang atas kebaikan. Jadi emang saya belajar banyak hal dari Mas Nugros juga," kata dia.
Andovi mengatakan bahwa film "Bapak Paling Jujur" dibuat dengan tujuan baik, menyampaikan kejujuran dengan latar cerita pemilihan umum.