Ia mengatakan sejumlah pekerjaan telah dilakukan di IPA Gunung Pangilun, antara lain penggantian aerator, penggantian pasir silika, serta pengerukan intake. Upaya tersebut menunjukkan hasil dengan turunnya tingkat kekeruhan air dari sekitar 300 NTU menjadi 15 NTU.

"Alhamdulillah, kekeruhan yang semula sekitar 300 NTU sekarang tinggal 15 NTU. Masyarakat bisa mengecek bahwa kualitas air di kawasan pelayanan pusat kota sudah mengalami perbaikan," jelas Maria Doeni.

Selain Gunung Pangilun, penanganan juga dilakukan pada intake Guo Kuranji yang telah terdampak banjir sebanyak tiga kali. Pemerintah menyiapkan pembangunan bendung dan intake permanen untuk mengurangi risiko kerusakan serupa apabila banjir kembali terjadi. Penanganan terhadap sebagian intake di kawasan Latung juga telah dilakukan.

Maria menambahkan, anggaran penanganan darurat sebesar Rp 158 miliar merupakan salah satu bagian dari dukungan pemerintah untuk memperbaiki layanan air minum. Anggaran sebesar Rp1,116 triliun untuk periode 2026-2028 dinilai sangat penting untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.