Mereka yang mengkritik menyebut AfD memelintir fakta demi memicu sentimen anti muslim dan memanfaatkan isu tersebut sebagai alat kampanye menjelang pemilihan negara bagian di Saxony-Anhalt pada 6 September mendatang, serta di Berlin dan Mecklenburg-Western Pomerania pada 20 September.

Menurut mereka, kalim AfD mengenai maraknya pemaksaan penggunaan jilbab di komunitas muslim Jerman tidak didukung oleh bukti yang kuat. Sebagian besar anak perempuan yang mengenakan jilbab justru melakukannya sebagai praktik budaya, tradisi keluarga atau pilihan pribadi dan bukan karena paksaan.