Ia juga menekankan pentingnya informasi yang valid mengenai koordinat titik api agar penanganan bisa dilakukan secara presisi. Koordinasi antar-instansi diharapkan terus terjaga dengan satu komando berpatokan pada fakta di lapangan.
Selain penanganan api, petugas di pos penjagaan diminta memperketat pengawasan jalur pendakian agar tidak ada warga yang naik ke area rawan kebakaran.
"Segala potensi yang ada kita harus melindungi masyarakat. Untuk posko mencegah masyarakat yang mau naik ke atas, jangan sampai ada masyarakat menjadi korban. Tetap kita tidak boleh lengah, jaga kekompakan, jaga kesehatan, dan jaga keselamatan," tegasnya.
Sementara itu, Administratur Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Malang Kelik Djatmiko menjelaskan titik api sebenarnya sempat padam total.
Berdasarkan pemantauan pada Kamis (10/9/2026) dan Jumat (11/9/2026), lokasi titik api terakhir di Gunung Kawinajang sudah padam. Namun, hembusan angin kencang pada Sabtu (12/9/2026) memicu kobaran api kembali muncul.