"Titik api yang menyala itu tetap berada di lereng Gunung Buthak dan Gunung Kawinajang," kata Kelik.

Kelik menyebut, cuaca ekstrem dan medan yang terjal menjadi hambatan utama petugas di lapangan. Pemadaman melalui jalur darat dinilai sangat berisiko bagi para personel.

"Operasi lewat darat memang sangat berbahaya, sehingga sifatnya kami hanya memantau pergerakan apinya saja. Pembuatan sekat bakar masih tetap berlanjut, tapi di lokasi-lokasi yang aman," jelas Kelik.

Upaya pemadaman udara atau water bombing sudah mulai dikerahkan. Pada sortie pertama, pemadaman udara telah dilakukan sebanyak dua kali pengedropan air. Namun proses tersebut sempat dihentikan sementara akibat faktor angin.

"Kendala angin sehingga ini berhenti sebentar sambil menunggu perkembangan tiupan anginnya," tandasnya.