Cara kerjanya sendiri sebenarnya sederhana. Setiap angklung digerakkan oleh dinamo yang terhubung dengan sistem puli dan as dorong. Dari mekanisme itu, tabung bambu dapat bergerak dengan presisi sesuai nada yang dibutuhkan.
"Kalau kerjanya sebetulnya simpel ya. Jadi tiap angklungnya itu digerakkan sama dinamo dengan tambahan puli dan as dorong. Untuk cara mainnya itu ada dua opsi, ada yang pakai keyboard manual sama modul controller-nya," jelas Arief.
Keistimewaannya terletak pada modul pengendali digital. Dengan sistem tersebut, angklung robotik tidak hanya memainkan satu nada atau melodi sederhana, melainkan mampu membawakan sebuah lagu secara utuh lengkap dengan ritme, variasi nada hingga bass.
"Jadi modul controller tuh fungsinya dia bisa mainin aransemen satu lagu full dengan rhythm-nya, dengan variasi nadanya, dengan bass-nya juga. Jadi dia bisa main misalkan satu lagu full, dia main sendiri tanpa harus kita mainin secara manual," katanya.
Semua gerakan angklung diatur melalui file MIDI, format digital yang lazim digunakan dalam produksi musik modern. Namun tantangan terbesar justru muncul pada hal yang tidak terlihat, yaktu gerakan kecil angklung itu sendiri.
Angklung selama ini identik dengan bunyi panjang. Sementara dalam musik modern terdapat teknik staccato, yakni nada-nada pendek yang dimainkan secara cepat. Arief dan tim harus melakukan riset panjang agar angklung tetap bisa berbunyi meski digerakkan dalam waktu yang sangat singkat.
"Untuk prosesnya sebetulnya lumayan panjang di riset mekanikalnya sih. Jadi nada tuh ada yang namanya staccato ya. Jadi kita tuh harus ngitung nih gimana caranya si angklung bisa geraknya tuh dengan bar-bar tipis, bar-bar pendek dia bisa tetap bunyi," ujar Arief.
"Itulah yang jadi riset yang lumayan panjangnya di situ. Jadi kan angklung identik dengan bar-bar panjang ya, kita ada staccato-staccatonya biar bisa dia bunyi juga. Itu yang kita bikin di programnya," lanjutnya.