Tak hanya mekanisme penggeraknya, angklung yang digunakan pun dibuat berbeda. Arief dan tim memesan angklung khusus kepada para perajin dengan tangga nada yang telah dimodifikasi agar mampu memainkan aransemen yang lebih luas.
"Kalau pembuatan angklung kita nggak buat sendiri ya, kita buat ke pengerajin juga. Kita pesan ke pengerajin cuman dengan tangga nada yang beda sama angklung konvensional," katanya.
"Kita ada beberapa custom tangga nada yang memang ada minornya. Jadi biar nada-nada itu lebih real kedengarannya gitu. Jadi nggak terbatas kita bikin aransemennya gitu," tambahnya.
Keberadaan angklung robotik ini juga memunculkan pertanyaan soal peran robot yang dikhawatirkan menggantikan pemain angklung tradisional. Arief memahami kekhawatiran tersebut.
Namun baginya, teknologi bukan ancaman bagi budaya. Sebaliknya, teknologi justru menjadi jembatan agar kesenian tradisional tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
"Ya pasti ada lah ya sedikit pertentangan atau misalkan statement-statement yang negatif mungkin takut budaya tradisional tuh tergeser. Saya sangat menghargai pendapat itu karena ya secara logika mungkin ke arah situ ada. Cuman kan tujuan kita di sini bukan untuk itu," ucapnya.
"Tujuan kami di sini membuat robotik angklung ini bukan untuk menghilangkan budaya tradisionalnya. Justru kita berharap bisa kolaborasi. Misalkan gimana caranya tim redaksi angklung tradisional dan robotik itu kita bisa main bareng, main dalam satu panggung, arahnya kan ke situ," pungkasnya.