Namun, teknologi tersebut juga menghadirkan tantangan baru, yaitu misinformasi, gambar-gambar yang dimanipulasi, serta meningkatnya ketidakpastian mengenai apa yang sebenarnya nyata.

"Dalam situasi baru ini, kecepatan saja tidak lagi cukup. Dunia membutuhkan informasi yang dapat dipercaya. Bagi ANTARA, tanggung jawab ini berakar kuat dalam sejarah kami," jelas Abdul Hakim.

Dia juga mengatakan bahwa ANTARA berpedoman pada sejarah sebagai kantor berita yang didirikan pada 13 Desember 1937 oleh empat wartawan muda sekaligus menjadi rumah bagi para wartawan Indonesia yang menyebarluaskan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada dunia internasional.

"Setelah 90 tahun kemudian, teknologi yang kami gunakan telah berubah, tetapi misi mendasar kami tetap sama, yaitu menyampaikan informasi yang dapat dipercaya, melayani masyarakat, dan menghubungkan Indonesia dengan dunia," ungkap dia.

Saat ini, Abdul Hakim menyebut misi ANTARA menuntut kantor berita nasional itu untuk merangkul inovasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip awal.

Sedangkan Wakil Pemimpin Redaksi Xinhua Ren Weidong mengatakan bahwa kantor berita harus menginggalkan pelabelan antara kantor berita yang maju dan tertinggal tapi lebih menggali secara mendalam latar belakang sejarah dan tuntutan berbagai pihak dalam bidang-bidang seperti transisi energi, pembangunan hijau, dan tata kelola digital.