Menurut Arsa, kemewahan dalam prosesi kematian bangsawan menjadi cara untuk menunjukkan kekuasaan sekaligus memperkuat legitimasi keluarga kerajaan di hadapan masyarakat.
Praktik itu memiliki kaitan dengan upaya mempertahankan pengakuan masyarakat terhadap kedudukan dan memastikan legitimasi bagi keturunannya yang akan melanjutkan pemerintahan.
"Mereka menggunakan prosesi arak-arakan yang panjang dan mewah dengan berbagai bentuk," ucap Arsa.
Lebih lanjut dia menyampaikan status sosial masyarakat Sasak masa lalu juga bisa diamati dari bentuk dan ukuran nisan yang digunakan di kawasan pemakanan.
Nisan-nisan kuno berhias diterapkan oleh berbagai lapisan masyarakat di Lombok, namun ada perbedaan ukuran dan kepadatan ragam hias yang mencerminkan kedudukan sosial pemilik nisan tersebut.