Kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi memungkinkan mereka yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap jenis nisan tertentu kini dapat menggunakannya karena memiliki kemampuan finansial.
Nisan milik kalangan bangsawan cenderung berukuran lebih besar hingga satu meter dan memiliki ragam hias lebih padat, sedangkan nisan masyarakat biasa relatif berukuran sederhana dan memiliki motif ukiran polos.
"Nisan tidak hanya dipandang benda material semata, tapi juga dipandang sebagai bentuk memori bagi masyarakat yang hidup pada masa sekarang," papar Arsa, lulusan Universitas Indonesia dan Universitas Hasanuddin tersebut.
Bahkan, bagi masyarakat Sasak Boda di Lombok Utara yang terkenal egaliter dan tidak menampilkan kemewahan dalam kehidupan sehari-hari, saat kematian, hierarki genealogis yang terselubung muncul secara tegas melalui medium material peti mati.
Peti mati berbahan kayu kenari digunakan oleh kaum elit atau golongan bangsawan dari masyarakat Sasak Boda. Sedangkan, peti mati kayu dadap digunakan oleh masyarakat biasa.