Ketersediaan air tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Sektor pertanian, industri, peternakan, energi dan berbagai kegiatan lainnya juga membutuhkan air. Ketika pasokan menurun, pengelolaan dan pembagian air menjadi semakin penting.

BMKG pada Juli 2026 telah mengingatkan bahwa sektor sumber daya air dan energi perlu menghitung ketersediaan air baku serta volume air bendungan untuk menghadapi dampak El Nino.

Dengan demikian, ketika air semakin terbatas, pengelola sumber daya air perlu menentukan prioritas penggunaannya agar kebutuhan penting tetap dapat terpenuhi.

Ketika musim hujan datang terlambat, masyarakat mungkin berpikir bahwa kondisi tersebut hanya masalah sementara. Namun, periode kering yang panjang dapat memberikan tekanan cukup besar terhadap cadangan air.

Karena itu, penggunaan air secara efisien menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan.

Misalnya, menggunakan air secukupnya ketika mandi dan mencuci, segera memperbaiki keran atau pipa yang bocor, menggunakan kembali air yang masih layak untuk kebutuhan tertentu, serta tidak membiarkan air mengalir tanpa keperluan.

Penghematan air bukan berarti harus mengurangi kebutuhan dasar, melainkan menghindari penggunaan air secara berlebihan ketika sumbernya sedang terbatas.

Menghadapi kondisi seperti ini, tanggung jawab menjaga ketersediaan air bukan hanya berada di tangan masyarakat.

Pemerintah dan pengelola sumber daya air juga perlu memastikan waduk, bendungan, jaringan distribusi, irigasi dan sumber air alternatif dikelola secara optimal.

Kementerian Pekerjaan Umum menyebut sejumlah strategi telah disiapkan untuk menghadapi kemarau panjang 2026, termasuk optimalisasi tampungan air, pengaturan alokasi berdasarkan prioritas dan data, penguatan jaringan irigasi, serta pemanfaatan sumber air alternatif.

BMKG juga telah melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah sebagai salah satu upaya mitigasi kekeringan dan untuk membantu mengisi waduk maupun daerah tangkapan air ketika kondisi atmosfer memungkinkan.