NADIKABAR.COM — El Nino mungkin terdengar seperti istilah yang hanya berkaitan dengan cuaca panas dan musim kemarau. Namun, dampaknya ternyata bisa lebih jauh, termasuk terhadap ketersediaan air yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Ketika curah hujan berkurang dalam waktu cukup lama, persoalannya bukan hanya soal tanaman yang kekurangan air atau suhu udara yang terasa lebih panas. Sungai, waduk, dan sumber air tanah juga ikut terdampak.

Kondisi inilah yang membuat El Nino memiliki hubungan erat dengan ketersediaan air bersih.

Bagaimana El Nino memengaruhi hujan?

El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Fenomena tersebut dapat mengubah pola atmosfer dan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi El Nino, Indonesia umumnya mengalami penurunan curah hujan, terutama ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.

Pada 2026, pengaruh tersebut menjadi perhatian karena BMKG menyatakan El Nino berada pada intensitas sangat kuat. BMKG pada 22 September 2026 juga memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologis.

BMKG menyebut kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif dapat memperparah serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Artinya, sejumlah wilayah bisa mengalami periode tanpa hujan yang lebih panjang. Semakin lama hujan tidak turun, semakin besar pula tekanan terhadap sumber-sumber air.

Air sungai dan waduk bisa ikut berkurang

Salah satu dampak yang paling mudah dipahami adalah berkurangnya debit sungai.

Sungai mendapatkan pasokan air dari hujan, aliran permukaan, mata air, dan berbagai sumber lainnya. Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, pasokan tersebut ikut menurun.

Hal yang sama dapat terjadi pada waduk dan danau.

Kementerian Pekerjaan Umum menyebut kondisi El Nino dan kemarau panjang dapat menyebabkan penurunan debit sungai, berkurangnya volume waduk, serta menurunnya cadangan air tanah.

Padahal, waduk memiliki peran penting dalam menyimpan air yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk air baku, irigasi dan kebutuhan masyarakat.

Itulah sebabnya pengelolaan waduk menjadi semakin penting ketika periode kemarau berlangsung panjang.

Air tanah juga tidak otomatis aman ketika hujan berkurang.

Sebagian air hujan meresap ke dalam tanah dan menjadi bagian dari cadangan air tanah. Ketika hujan turun lebih sedikit, proses pengisian kembali atau recharge air tanah juga dapat berkurang.

Pada saat yang sama, kebutuhan air masyarakat tetap berjalan seperti biasa.

Orang tetap mandi, mencuci, memasak, menyiram tanaman dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Jika penggunaan air terus berlangsung sementara pasokan dari alam berkurang, keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air bisa semakin tertekan.

Karena itu, dampak kekeringan tidak selalu langsung terlihat dari permukaan. Sumur yang biasanya memiliki air cukup, misalnya, dapat mengalami penurunan debit ketika periode kering berlangsung panjang.

Ada hal lain yang perlu dibedakan. Ketersediaan sumber air tidak selalu sama dengan ketersediaan air bersih yang siap digunakan.

Air sungai, danau, waduk maupun air tanah masih membutuhkan pengelolaan agar dapat memenuhi standar untuk kebutuhan tertentu.

Ketika sumber air menyusut, konsentrasi sejumlah zat di dalam air juga dapat berubah. Pengolahan air baku kemudian dapat menjadi lebih menantang, tergantung kondisi sumber air dan kualitasnya.

Karena itu, persoalan El Nino bukan sekadar "air habis". Yang menjadi perhatian adalah bagaimana menjaga pasokan air baku agar tetap mencukupi kebutuhan masyarakat selama periode kering.

Sektor pertanian juga ikut bersaing mendapatkan air

Ketersediaan air tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Sektor pertanian, industri, peternakan, energi dan berbagai kegiatan lainnya juga membutuhkan air. Ketika pasokan menurun, pengelolaan dan pembagian air menjadi semakin penting.

BMKG pada Juli 2026 telah mengingatkan bahwa sektor sumber daya air dan energi perlu menghitung ketersediaan air baku serta volume air bendungan untuk menghadapi dampak El Nino.

Dengan demikian, ketika air semakin terbatas, pengelola sumber daya air perlu menentukan prioritas penggunaannya agar kebutuhan penting tetap dapat terpenuhi.

Ketika musim hujan datang terlambat, masyarakat mungkin berpikir bahwa kondisi tersebut hanya masalah sementara. Namun, periode kering yang panjang dapat memberikan tekanan cukup besar terhadap cadangan air.

Karena itu, penggunaan air secara efisien menjadi salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan.

Misalnya, menggunakan air secukupnya ketika mandi dan mencuci, segera memperbaiki keran atau pipa yang bocor, menggunakan kembali air yang masih layak untuk kebutuhan tertentu, serta tidak membiarkan air mengalir tanpa keperluan.

Penghematan air bukan berarti harus mengurangi kebutuhan dasar, melainkan menghindari penggunaan air secara berlebihan ketika sumbernya sedang terbatas.

Menghadapi kondisi seperti ini, tanggung jawab menjaga ketersediaan air bukan hanya berada di tangan masyarakat.

Pemerintah dan pengelola sumber daya air juga perlu memastikan waduk, bendungan, jaringan distribusi, irigasi dan sumber air alternatif dikelola secara optimal.

Kementerian Pekerjaan Umum menyebut sejumlah strategi telah disiapkan untuk menghadapi kemarau panjang 2026, termasuk optimalisasi tampungan air, pengaturan alokasi berdasarkan prioritas dan data, penguatan jaringan irigasi, serta pemanfaatan sumber air alternatif.

BMKG juga telah melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah sebagai salah satu upaya mitigasi kekeringan dan untuk membantu mengisi waduk maupun daerah tangkapan air ketika kondisi atmosfer memungkinkan.