Isi di Dalamnya: Di dalam kantung tertutup ini, tubuh ulat meluruh dan berubah menjadi pupa untuk menyelesaikan metamorfosis menjadi ngengat dewasa.
Meskipun bagian luar kepompong tampak kotor dan dipenuhi debu menjijikkan, bagian dalam kantung ini justru ditenun dengan jaring sutra murni yang sangat bersih dan lembut. Lapisan halus ini berfungsi sebagai bantal pelindung agar tubuh lunak larva atau pupa tidak terluka akibat gesekan partikel debu tajam di luar.
Siklus reproduksi kamitetep betina menyimpan fakta biologi yang tragis sekaligus mencengangkan:
Ngengat Jantan: Setelah metamorfosis selesai, ngengat jantan bersayap akan keluar dari lubang bawah kantung untuk terbang mencari pasangan, meninggalkan selongsong kosong di dinding.
Ngengat Betina: Ngengat betina tidak memiliki sayap fungsional, tidak memiliki kaki yang kuat, bahkan tidak memiliki mata atau antena yang berkembang-ia tampak seperti belatung (grub-like). Ngengat betina tidak pernah meninggalkan kepompongnya seumur hidup.
Kematian di Dalam Kantung: Betina hanya akan memunculkan tubuhnya sedikit untuk melepaskan feromon penarik jantan, kawin di mulut kantung, lalu bertelur hingga 200 butir di dalam kepompongnya sendiri. Setelah tugasnya selesai, induk betina akan mati di dalam kepompong dan tubuhnya mengering (membentuk mumi) demi menyelimuti dan melindungi telur-telurnya dari lingkungan luar.
Banyak orang mengira rasa gatal luar biasa akibat terkena kamitetep disebabkan oleh gigitan serangga tersebut. Faktanya, ulat kamitetep sama sekali tidak menggigit manusia.
Jawaban misteri ini akhirnya terpecahkan melalui profiling mikrobioma (metagenomik 16S rRNA) yang dilakukan oleh tim peneliti dalam jurnal ilmiah PLOS ONE (2026). Peneliti menemukan fakta mengejutkan mengenai isi permukaan kepompong kamitetep:
Sarang Bakteri Penghasil Histamin: Tubuh larva dan kantung kamitetep didominasi oleh bakteri dari filum Proteobacteria (40,18%) dan Actinobacteriota (32,13%).
Gen Bakteri Pemicu Alergi: Peneliti mendeteksi adanya komunitas bakteri spesifik dari genus Enterobacter, Pseudomonas, dan Streptomyces. Beberapa spesies dari genus ini memiliki kemampuan enzimatis aktif untuk mengubah asam amino lingkungan menjadi histamin (senyawa kimia utama pemicu reaksi gatal dan alergi pada tubuh manusia). Bahkan, bakteri penyebab iritasi kulit manusia, yaitu Cutibacterium acnes, ditemukan hidup melimpah di permukaan tubuh ulat ini.
Mekanisme Penularan Spora Gatal: Bakteri penghasil histamin ini diduga mentransfer senyawa histamin ke permukaan kepompong melalui air liur (saliva) ulat saat mereka merayap dan makan.