NADIKABAR.COM — Bayangkan sebuah fasilitas industri memiliki 'kembaran digital' yang dapat membantu engineer memantau kondisi sistem, membaca data operasional, hingga mengenali potensi risiko. Teknologi tersebut dikenal sebagai digital twin.
Dalam dunia engineering, digital twin bukan sekadar model atau maket 3D yang tampil menarik di layar. Teknologi ini merupakan representasi virtual dari fasilitas fisik yang terhubung dengan data aset dan proses operasional sehingga dapat diperbarui sesuai kondisi aktual di lapangan.
Dengan dukungan data operasional, digital twin dapat membantu engineer memahami kondisi fasilitas secara lebih terukur. Mulai dari memantau performa peralatan, melihat penggunaan energi, hingga mengevaluasi perubahan kondisi sistem.
Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, penerapannya tetap perlu berangkat dari kondisi nyata di lapangan. Data dari fasilitas fisik menjadi bagian penting agar representasi digital dapat memberikan informasi yang relevan.
Dikutip dari Instagram PT CCEPC Indonesia, digital twin adalah representasi virtual dari aset, fasilitas, atau sistem fisik yang diperbarui menggunakan data aktual dari kondisi operasional. Berbeda dengan model 3D biasa, digital twin dapat terhubung dengan berbagai sumber data sehingga informasi mengenai fasilitas dapat diperbarui secara berkala atau secara real-time, bergantung pada sistem yang digunakan.
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Fasilitas fisik → Data operasional → Model virtual diperbarui → Digital twin
Data yang digunakan untuk memperbarui digital twin dapat mencakup:
1. Status dan performa peralatan2. Penggunaan energi3. Aliran dan proses operasi4. Perubahan kondisi sistem.
Dengan integrasi tersebut, engineer memiliki representasi virtual yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi untuk memahami kondisi fasilitas.