Dengan adanya kapal induk, pesawat dan helikopter dapat dioperasikan dari laut sehingga jangkauan operasi tidak hanya bergantung pada pangkalan yang berada di daratan.

Dalam operasi militer, kemampuan tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti pengawasan wilayah laut, perlindungan armada, dukungan terhadap operasi udara hingga menjalankan misi serangan sesuai kemampuan kapal dan pesawat yang dibawanya.

Kapal induk biasanya juga tidak beroperasi sendirian. Kapal ini dapat menjadi bagian dari kelompok kapal perang yang saling memberikan perlindungan dan dukungan.

Karena membawa wahana udara, kapal induk juga dapat membantu memperluas kemampuan pengamatan dan pengawasan di wilayah laut yang luas.

Untuk operasi kemanusiaan dan bencana

Fungsi kapal induk ternyata tidak selalu berkaitan dengan peperangan.

Kapal dengan dek penerbangan luas dan kemampuan membawa banyak personel, peralatan serta wahana udara juga dapat dimanfaatkan dalam operasi kemanusiaan.

Ketika terjadi bencana di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau melalui jalur darat, helikopter yang beroperasi dari kapal dapat digunakan untuk mengangkut bantuan, mengevakuasi korban atau mengirim personel ke lokasi terdampak.

Angkatan Laut Amerika Serikat juga mencatat kemampuan kapal induk dalam mendukung respons bencana dan bantuan kemanusiaan, termasuk dengan menggunakan helikopter serta sistem komando dan komunikasi yang dibawanya.

Fungsi semacam inilah yang juga menjadi salah satu rencana pemanfaatan kapal Giuseppe Garibaldi setelah masuk ke dalam armada Indonesia.

KRI Sriwijaya untuk kebutuhan Indonesia

Kedatangan Giuseppe Garibaldi tidak serta-merta membuat Indonesia menggunakannya seperti kapal induk milik negara lain yang berorientasi pada operasi tempur.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan kapal tersebut akan menjalani pembenahan fisik dan perbaikan mesin agar sesuai dengan kebutuhan operasi TNI AL. Fokus yang disampaikan antara lain penggunaan untuk operasi militer selain perang atau OMSP.