Namun, ketika dinding danau ini jebol, air dari pencairan gletser dan air sungai yang meninggi dapat mengalir mendadak dan deras sebagai banjir bandang di hilir, yang disebut glacial lake outburst flood atau banjir akibat jebolnya danau glasial (GLOF).

Selaras, ahli geologi Otoritas Penanggulangan Bencana dan Manajemen Risiko Nasional Nepal, Prakash Pokharel mengatakan, "banjir yang meliputi gletser" terjadi di Sungai Lhende akibat longsoran es dan batu di sisi Nepal, dilansir Al Jazeera.

Batu dan es di gletser bisa jatuh, runtuh, atau longsor lantaran faktor gravitasi di lereng gunung. Pejabat Manajemen Bencana Nepal menyatakan, berdasarkan studi awal citra satelit Planet Labs, longsoran es dan batu gletser memicu banjir yang disertai puing-puing runtuhan es dan batu ke Sungai Lhende di Tibet, yang berjarak sekitar 20 km dari perbatasan Nepal-China di Rasuwagadhi.

Ilmuwan bumi Dan Shugar, seorang profesor madya di Universitas Calgary, mengatakan, berdasarkan data citra, sejumlah besar salju sudah mencair dalam 24 jam sebelum bencana.

"Bagian bawah gletser terlepas pada ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah sekitar 1.200 meter di bawahnya," kata Shugar.