Perbedaan tersebut juga dapat ditemukan dalam satu negara. WFD menjelaskan bahasa isyarat dapat berbeda bukan hanya antarnegara, tetapi juga dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Budaya masyarakat turut memengaruhi perkembangan bahasa isyarat. Gerakan tertentu dapat memiliki makna yang berbeda ketika digunakan dalam lingkungan budaya yang berbeda.

Karena itu, bahasa isyarat tidak dapat dipahami hanya sebagai terjemahan satu per satu dari bahasa lisan ke dalam gerakan tangan. Bahasa isyarat memiliki sistem dan struktur tersendiri.

Bahasa isyarat merupakan bahasa yang utuh dengan struktur linguistik tersendiri. PBB menegaskan bahasa isyarat berbeda secara struktural dari bahasa lisan.

Artinya, orang yang menguasai satu bahasa isyarat belum tentu secara otomatis memahami bahasa isyarat yang digunakan di negara lain.

Bagaimana dengan bahasa isyarat di Indonesia?

Indonesia mengenal beberapa bentuk komunikasi berbasis isyarat, di antaranya Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia atau SIBI.

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan BISINDO berkembang secara alamiah di komunitas Tuli. Penggunaannya juga memiliki variasi gerakan di sejumlah daerah yang dipengaruhi budaya Tuli setempat.

Sementara itu, SIBI merupakan sistem isyarat yang disusun untuk menyesuaikan bahasa isyarat dengan struktur bahasa Indonesia, terutama dalam konteks pendidikan formal. SIBI memiliki tata aturan yang sistematis untuk merepresentasikan kosakata bahasa Indonesia.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa variasi bahasa isyarat juga terdapat di dalam satu negara. Dengan demikian, penggunaan istilah bahasa isyarat Indonesia tidak berarti seluruh masyarakat Tuli di setiap daerah menggunakan gerakan yang persis sama.