Artinya, intensitas hujan, ukuran partikel, kondisi atmosfer, serta tingkat polusi sebelum hujan semuanya dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Inilah alasan mengapa kualitas udara tidak bisa hanya dinilai berdasarkan ada atau tidaknya hujan.

Setelah hujan, apakah aman beraktivitas di luar?

Tidak selalu harus menunggu hujan untuk memastikan udara aman, tetapi juga tidak tepat menganggap hujan sebagai "pembersih udara alami" yang bekerja sempurna.

Cara paling praktis adalah melihat indeks atau informasi kualitas udara di wilayah masing-masing. Jika konsentrasi PM2.5 masih tinggi setelah hujan, terutama di kawasan dengan sumber emisi yang besar, masyarakat tetap perlu memperhatikan aktivitas di luar ruangan.

WHO menetapkan pedoman kualitas udara berdasarkan berbagai polutan karena paparan partikulat dan polutan lainnya tetap memiliki risiko terhadap kesehatan meskipun konsentrasinya berubah-ubah.

Jadi, hujan memang bisa membantu menurunkan kadar sebagian polusi udara, terutama partikulat yang dapat terbawa oleh tetesan air. Namun, efeknya bersifat sementara dan tidak berlaku sama pada semua jenis polutan maupun semua kondisi cuaca.

Dengan kata lain, hujan bisa membantu "mencuci" sebagian polusi dari udara, tetapi bukan berarti setelah hujan turun udara pasti bebas polusi.