"Pemanfaatan kulit semangka sebagai pangan perlu memperhatikan asal bahan dan praktik budidaya. Penanganan pascapanen, pencucian, serta pengolahan yang tepat juga diperlukan agar potensi nutrisi kulit dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan," beber Budi.

Budi membeberkan, memang pemanfaatan rind untuk konsumsi bukan hal baru. Ada sejumlah wilayah di luar negeri yang mengolah kulit semangka menjadi pickle atau acar dan manisan.

Bahkan, ada penelitian yang khusus dilakukan untuk menilai karakter rind dan varietas mana yang paling sesuai untuk dimanfaatkan sebagai pickle dan manisan. Budi menilai langkah ini berkaitan dengan konsep whole-fruit utilization.

"Yaitu bagaimana sebanyak mungkin bagian dari satu buah dapat dimanfaatkan sesuai dengan karakter dan potensinya. Membuka peluang untuk melihat bahwa varietas semangka yang berbeda dapat memiliki karakter rind yang berbeda dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan berbeda pula," ucapnya.

Ke depan, pengembangan pemanfaatkan kulit semangka menurutnya bisa difokuskan lebih lanjut. Tidak sekadar jadi makanan, potensinya bisa merambah ke produk lain yang aman, memiliki nilai tambah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

"Jadi tantangannya ke depan bukan lagi sekedar bagaimana membuat rind dapat dimakan, tetapi bagaimana mengembangkan pemanfaatannya menjadi sesuatu yang aman, bernilai tambah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat," imbuh Budi.