"Perbedaan kandungan serat dan mineral tim redaksi kulit dan daging buah lebih tepat dipahami sebagai konsekuensi dari perbedaan struktur dan fungsi kedua jaringan tersebut, bukan sebagai indikasi bahwa salah satu bagian secara keseluruhan lebih bergizi daripada bagian lainnya," ungkap Budi dikutip dari laman UGM.
Lantaran perbedaan yang ada, pemanfaatan kulit semangka sebagai bahan pangan perlu dilihat secara lebih spesifik. Budi menyebut semangka tidak memiliki komposisi dan karakter kulit yang sama.
Sebelumnya, sudah ada penelitian terhadap enam kultivar komersial semangka. Hasil studi tersebut menunjukkan setiap semangka memiliki kandungan serat, gula, protein, senyawa fenolik, aktivitas antioksidan, dan karakter fisikokimia kulit yang berbeda.
"Ketika kulit semangka mulai dipertimbangkan sebagai bahan pangan, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa 'kulit semangka bisa dimakan', tetapi juga perlu mengetahui semangka yang mana dan bagaimana bahan tersebut diproduksi," urainya lebih lanjut.
Selain kandungan nutrisi, Budi juga menyoroti aspek keamanan pangan kulit semangka. Kulit adalah bagian terluar buah yang bersentuhan langsung dengan lingkungan.
Dengan begitu, praktik budidayanya juga jadi bagian penting yang harus diperhatikan. Residu pestisida yang digunakan untuk tanaman bisa terdistribusi baik di kulit maupun daging buah, tetapi jumlahnya bisa berbeda tergantung varietas serta tahap perkembangan.