NADIKABAR.COM — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan. Salah satu langkah yang kerap dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan asap adalah menggunakan masker medis.
Namun, apakah masker yang biasa digunakan sehari-hari itu cukup efektif melindungi diri dari partikel berbahaya di udara?
Masker medis atau masker bedah umumnya dirancang untuk membantu menghalangi percikan dan partikel tertentu, tetapi tidak dibuat untuk menutup rapat seluruh bagian wajah. Akibatnya, partikel halus dalam kabut asap masih berpotensi masuk melalui celah di sekitar hidung dan pipi.
Panduan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menjelaskan bahwa masker bedah dan masker kain tidak dirancang untuk menyaring partikel asap berukuran sangat kecil secara optimal.
Perlindungannya terhadap partikel halus dapat terbatas, sehingga masker tersebut tidak dapat diandalkan sebagai perlindungan utama saat kualitas udara memburuk akibat kebakaran.
Bahaya partikel halus dalam kabut asap
Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran partikel halus, gas, serta senyawa lain yang dapat membahayakan kesehatan. Salah satu komponen yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yakni partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan PM2.5 masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan asap dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, dan memperburuk kondisi orang yang memiliki asma atau penyakit paru-paru maupun jantung.
Karena itu, penggunaan masker perlu disertai langkah lain untuk mengurangi paparan. Mengandalkan masker medis saja tidak cukup, terutama ketika kabut asap pekat atau kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
Masker apa yang lebih tepat untuk kabut asap?
Jika seseorang terpaksa beraktivitas di luar ruangan saat kabut asap, respirator partikulat seperti N95 dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai dibandingkan masker medis biasa.
Berdasarkan standar penyaringan yang digunakan di Amerika Serikat, respirator N95 dirancang untuk menyaring setidaknya 95 persen partikel uji tertentu di udara dalam kondisi pengujian standar. Namun, angka tersebut bukan berarti masker mampu menghilangkan seluruh risiko kesehatan akibat kabut asap.
Perlindungan N95 sangat bergantung pada kecocokan dengan bentuk wajah dan cara pemakaiannya. Masker harus menutup hidung, mulut, hingga bagian bawah dagu dengan rapat. Celah di sisi wajah dapat membuat udara yang tidak tersaring masuk ke saluran pernapasan.
Respirator N95 juga memiliki keterbatasan. Masker jenis ini membantu menyaring partikel, tetapi tidak dirancang untuk menghilangkan seluruh gas atau uap berbahaya yang terkandung dalam asap. Oleh sebab itu, pemakaiannya tetap harus disertai upaya menghindari paparan.
Masyarakat juga perlu memperhatikan label dan standar produk ketika membeli respirator. Jangan hanya mengandalkan bentuk masker yang menyerupai N95 tanpa memastikan keterangan standar dan keasliannya.
Selain memilih perlindungan pernapasan yang sesuai, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko akibat kabut asap.
1. Batasi aktivitas di luar ruangan
Jika tidak mendesak, tunda kegiatan luar ruangan ketika asap pekat atau kualitas udara memburuk. Aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi karena dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup.
2. Tutup pintu dan jendela saat asap masuk
Upaya ini dapat membantu mengurangi masuknya udara tercemar ke dalam rumah. Jika tersedia, gunakan penyaring udara yang sesuai untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
3. Perhatikan informasi kualitas udara
Pantau informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi berwenang. Kondisi dapat berubah sepanjang hari sehingga kegiatan di luar ruangan perlu disesuaikan.
Bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru perlu lebih berhati-hati. Mereka sebaiknya mengurangi paparan asap dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
5. Kenali tanda gangguan pernapasan
Batuk yang tidak kunjung reda, mengi, atau sesak napas perlu diwaspadai. Segera cari pertolongan medis apabila mengalami kesulitan bernapas atau gejala yang memburuk.
Masker medis bukan perlindungan utama
Dengan demikian, masker medis biasa tidak memberikan perlindungan optimal terhadap partikel halus dalam kabut asap. Respirator partikulat seperti N95 yang sesuai standar dan terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel, tetapi bukan pengganti upaya menghindari udara tercemar.
Langkah paling penting adalah membatasi waktu di luar ruangan, menjaga udara di dalam rumah tetap bersih, serta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan petugas. Ketika kabut asap semakin pekat, mengurangi paparan tetap menjadi cara utama untuk melindungi kesehatan.