NADIKABAR.COM — Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Liliy Widjaja mengatakan langkah pertama untuk melakukan investasi di pasar modal adalah mengenali diri sendiri.

“Tentu saja pertama-tama kita mesti mengenali diri sendiri dulu, siapakah saya, apa kebutuhan saya. Jadi, tujuan investasi itu apa dulu,” ujarnya dalam agenda Talkshow Pasar Modal: "Which Investment Fits You? Produk Pasar Modal: Saham, Reksa Dana, ETF, Obligasi”, di Jakarta, Jumat.

Kendati orientasi utama berinvestasi adalah pencapaian pertumbuhan kekayaan, dia menganggap pemahaman terhadap profil risiko sangat diperlukan.

Pemilihan instrumen investasi, menurut dia, harus disesuaikan dengan tingkat psikologis investor. Bagi mereka yang memiliki keberanian menghadap fluktuasi pasar, instrumen saham disebut menawarkan potensi imbal hasil optimal dengan catatan pemilihan saham didasari analisis fundamental perusahaan yang solid agar tak mudah panik saat pasar terkoreksi.

Sebaliknya, profil investor yang konservatif cenderung menghindari risiko tinggi, sehingga instrumen pendapatan tetap seperti Surat Berharga Negara (SBN) menjadi pilihan rasional karena menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan deposito konvensional, sekaligus memberikan kepastian arus kas bulanan berupa kupon.

Namun, Liliy mengingat bahwa aspek fundamental yang tak boleh diabaikan dalam setiap keputusan investasi adalah penggunaan dana dingin (idle funds).

“Jangan yang (dana) panas, yang untuk belanja buat sekolah, buat makan sehari-hari. Itu (investasi dilakukan) benar-benar (dengan) uang yang kalau terjadi apa pun, saya nggak apa-apain pun nggak apa-apa, nggak perlu diambil, mau turun sampai berapa pun saya bisa tutup mata,” ujar dia pula.

“Syaratnya tuh ya harus uang dingin, sehingga kalau kita masuk saham, kan pasar lagi turun nih, kalau kita idle funds, kita tidak dipaksa untuk jual saham tersebut pada harga yang lebih rendah pada waktu harga kita beli,” kata Lily.