NADIKABAR.COM β Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Timur (Jatim) Lia Afif mengatakan pemahaman masyarakat terhadap nilai batik sebagai karya budaya dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik, sekaligus mendorong regenerasi perajin di tengah perkembangan industri fashion.
Lia mengatakan batik sebagai wastra memiliki nilai budaya dan proses produksi yang berbeda dengan produk fashion massal, sehingga perlu dipahami secara lebih baik oleh konsumen.
βBatik sebagai wastra bukan untuk dibandingkan atau bersaing dengan produk massal (printing), karena batik adalah sebuah karya seni yang memiliki nilai budaya, bukan hanya sekadar sebagai produk fashion,β kata Lia kepada NadiKabar di Jakarta, Sabtu.
Lia mengatakan pemahaman terhadap nilai batik dapat membantu menciptakan pasar yang mampu menghargai proses dan nilai yang terdapat dalam setiap karya batik.
Kondisi pasar yang mampu menyerap batik secara berkelanjutan juga penting bagi keberlangsungan para perajin, karena produksi batik tulis membutuhkan keterampilan dan proses yang tidak dapat dilakukan secara instan.
Lia menjelaskan peningkatan kapasitas produksi batik tulis perlu diikuti proses pembelajaran dan transfer pengetahuan antarpembatik.
βBatik tulis bukan produk massal yang dapat dengan mudah ditingkatkan kapasitas produksinya. Di dalam proses peningkatan produksi tersebut ada proses belajar, tular ilmu,β ujarnya.
Menurut Lia, keberlanjutan industri batik juga berkaitan erat dengan regenerasi pembatik. Semakin terbuka pasar yang menghargai karya batik, semakin besar pula ruang bagi keterampilan membatik untuk terus diwariskan dan dikembangkan.
Karena itu, perluasan pasar batik menurutnya tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, tetapi juga memastikan produk yang ditawarkan kepada masyarakat memiliki pemahaman yang tepat mengenai batik sebagai wastra.
Lia menilai platform digital dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas pasar sekaligus membangun pemahaman konsumen mengenai nilai batik.
Di sisi lain, relevansi batik dengan kebutuhan konsumen masa kini juga perlu terus dikembangkan melalui inovasi desain.
Untuk tetap relevan dengan kebutuhan konsumen, termasuk generasi muda, sebagai desainer ia juga kerap menghadirkan inovasi batik ready to wear seperti palazzo dan outer agar batik lebih mudah dipadupadankan.
Menurut Lia, upaya menjaga eksistensi batik perlu berjalan bersama dengan inovasi desain dan penguatan pasar, sehingga warisan budaya tersebut dapat terus berkembang sekaligus memberikan ruang bagi keberlanjutan ekosistem perajin.