Sementara, Ketua Umum Aptisi, Budi Djatmiko menegaskan bahwa AERLA didesain khusus sebagai wadah berbagi praktik baik (best practices), pertukaran pengalaman, dan formulasi solusi atas tantangan global pendidikan tinggi. Menurutnya, pimpinan PTS harus memiliki visi kepemimpinan yang adaptif, transformatif, dan berorientasi pada keberdampakan nyata.
Melalui program ini, kata dia, para rektor mendapat banyak masukan baru terkait kepemimpinan dan pendidikan menuju 2035. Menurutnya program ini sebenarnya telah dilakukan sejak 2014 tetapi belum diresmikan secara khusus seperti yang dilakukan tahun ini.
Aptisi juga memprioritaskan pendampingan untuk perguruan swasta di di Indonesia timur dan tengah, yang memerlukan dorongan dan bantuan maksimal agar bisa berkembang.
"Harapannya adalah kami bisa men-drive 4.211 rektor di seluruh Indonesia. Nanti ada wakil rektor, dekan, ketua program studi, ketua lembaga-lembaga. Kami akan terus kontinu di gelombang 1, gelombang 2. Kami akan berikan pelatihan secara kontinu," tutur Budi Djatmiko.