NADIKABAR.COM — Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah menuntaskan pelaksanaan Aptisi Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I sebagai upaya penguatan kapasitas pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS).
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari pada 21–23 Oktober 2026 itu diproyeksikan sebagai program strategis jangka panjang untuk mengakselerasi peningkatan mutu dan tata kelola bagi 70.000 pimpinan PTS di seluruh Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto memberi apresiasi tinggi terhadap inisiatif Aptisi dalam kegiatan pengembangan kepemimpinan untuk para rektor tersebut.
"Intinya adalah bagaimana meningkatkan kapasitas pemimpinan para rektor-rektor di perguruan tinggi swasta. Ini juga kesempatan juga kami menyampaikan bentuk-bentuk program-program dari kementerian kepada para rektor PTS. Program ini akan berlanjut, ini batch 1, nanti batch 2 berikutnya seperti apa," katanya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Menteri Brian berharap setelah program ini, para peserta akan berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan sesama rektor dalam satu wilayah. Dia mengatakan kegiatan ini merupakan pengalaman baik yang bisa menjadi referensi untuk dibagikan pada para rektor lainnya di daerah.
"Selain kami bisa memberikan sosialisasi terkait program Kemdiktisaintek dalam kegiatan ini, kami juga mendapatkan masukan-masukan terkait berbagai kebijakan kami, mana yang masih kurang, terutama untuk melayani perguruan tinggi swasta. Itu bisa kami optimalkan," ujar dia.
Menurut Brian, para pemimpin di perguruan tinggi swasta memerlukan kemampuan kepemimpinan yang memahami dunia akademik, riset dan pendidikan secara menyeluruh. Selain itu, tidak hanya mementingkan keuntungan materi semata, tetapi juga keuntungan sosial.
"Saya melihat PTS-PTS kita sudah sangat baik. Makanya, praktik-praktik baik yang sudah berjalan di PTS yang hari ini dikumpulkan itu diharapkan bisa ditularkan kepada kemimpinan pada selanjutnya," ucap Brian Yuliarto.
Sementara, Ketua Umum Aptisi, Budi Djatmiko menegaskan bahwa AERLA didesain khusus sebagai wadah berbagi praktik baik (best practices), pertukaran pengalaman, dan formulasi solusi atas tantangan global pendidikan tinggi. Menurutnya, pimpinan PTS harus memiliki visi kepemimpinan yang adaptif, transformatif, dan berorientasi pada keberdampakan nyata.
Melalui program ini, kata dia, para rektor mendapat banyak masukan baru terkait kepemimpinan dan pendidikan menuju 2035. Menurutnya program ini sebenarnya telah dilakukan sejak 2014 tetapi belum diresmikan secara khusus seperti yang dilakukan tahun ini.
Aptisi juga memprioritaskan pendampingan untuk perguruan swasta di di Indonesia timur dan tengah, yang memerlukan dorongan dan bantuan maksimal agar bisa berkembang.
"Harapannya adalah kami bisa men-drive 4.211 rektor di seluruh Indonesia. Nanti ada wakil rektor, dekan, ketua program studi, ketua lembaga-lembaga. Kami akan terus kontinu di gelombang 1, gelombang 2. Kami akan berikan pelatihan secara kontinu," tutur Budi Djatmiko.