NADIKABAR.COM — Arab Saudi menolak tawaran yang diajukan Israel untuk bergabung dalam pertempuran melawan kelompok Houthi, yang bermarkas di Yaman. Beberapa waktu terakhir, Saudi terlibat operasi militer yang diluncurkan pemerintah Yaman terhadap Houthi untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok itu.

Penolakan ini, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (13/10/2026), dilaporkan oleh surat kabar terkemuka Israel, Haaretz, yang mengutip sumber diplomatik anonim, dalam laporannya pada Senin (12/10) waktu setempat.

Dilaporkan bahwa ada upaya Israel untuk mendapatkan persetujuan Saudi, melalui mediasi Amerika Serikat (AS), untuk bergabung dalam operasi militer melawan Houthi.

Menurut laporan Haaretz, Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) menolak desakan Israel karena tidak tertarik pada bantuan militer yang ditawarkan Tel Aviv. MBS disebut khawatir jika kerja sama dengan Israel dapat memicu reaksi negatif di kalangan masyarakat Saudi.

Seorang sumber lainnya, yang mengetahui persoalan tersebut, mengatakan bahwa Israel mengharapkan kerja sama militer dengan Saudi dapat memperkuat hubungan bilateral dan membuka jalan bagi kesepakatan normalisasi di masa depan.

Sejauh ini belum ada tanggapan langsung dari otoritas Saudi mengenai laporan tersebut.

Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, dan tetap berpegang pada pendirian bahwa normalisasi hubungan bergantung pada penyelesaian masalah Palestina, termasuk pembentukan negara Palestina.

Konflik Yaman yang mereda selama bertahun-tahun usai gencatan senjata disepakati tahun 2022, kembali berkobar sejak Juli lalu. Pertempuran sengit terjadi antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung internasional dan Houthi yang didukung Iran.

Baru-baru ini, pemerintah Yaman meluncurkan operasi militer terbaru terhadap Houthi, yang bertujuan merebut wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok tersebut. Saudi memberikan dukungan melalui serangan udara terhadap target-target Houthi di wilayah Yaman.

Sebagai balasannya, Houthi menargetkan wilayah Saudi dalam rentetan serangannya, baik yang melibatkan rudal maupun drone. Mulai dari fasilitas minyak, kapal tanker, hingga bandara sipil Saudi menjadi target serangan Houthi.

Menyusul serangan mematikan terhadap bandara di Riyadh pada akhir pekan yang menewaskan 18 orang, serangan Houthi masih menghujani Saudi pada Senin (12/10). Koalisi pimpinan Saudi mengumumkan pencegatan rudal-rudal Houthi di wilayahnya, salah satunya menargetkan Riyadh, ibu kota negara tersebut.

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengecam serangan Houthi terhadap bandara di Riyadh sebagai "serangan teroris yang mengerikan". Dia juga menyampaikan "belasungkawa yang mendalam" dari Israel kepada keluarga para korban dalam serangan mematikan itu.