Bandara Internasional King Abdullah bin Abdulaziz di Jazan

Pada 6 Oktober, otoritas Saudi melaporkan serangan terhadap bandara di wilayah selatan tersebut yang melukai tiga orang.

Pada hari yang sama, otoritas Saudi menyatakan Bandara Najran terkena serangan dan melaporkan adanya korban luka ringan.

Serangan dari kelompok yang berbasis di Yaman itu tetap menembus wilayah Saudi yang merupakan sekutu AS dan memiliki sejumlah alutsista canggih. The Times of India, yang mengutip analisis Forbes, melaporkan Saudi telah menghabiskan USD 83 miliar atau sekitar Rp 1.493 triliun untuk pertahanan pada tahun 2025.

Saudi disebut sistem pertahanan udara berlapis. Saudi dilaporkan memiliki jet tempur F-15, Eurofighter Typhoons, sistem pencegat rudal Patriot hingga Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Namun, serangan Houthi tetap menembus pertahanan Saudi.

Peneliti senior di Departemen Studi Perang King's College, Nawaf Obaid, menyebut persenjataan rudal kelompok Houthi pada dasarnya berasal dari teknologi persenjataan Iran dengan sedikit pengaruh teknologi dari China. Menurutnya, kemampuan domestik Houthi terbatas pada pembuatan drone.

"Houthi hanya menunjukkan sedikit bukti adanya inovasi teknologi lokal yang signifikan. Kemampuan domestik mereka sebagian besar terbatas pada pembuatan jenis rudal dan pesawat nirawak (drone) tertentu yang berteknologi lebih sederhana," ujarnya.

Nawaf Obaid mengatakan penerobosan sesekali terhadap sistem pertahanan udara Arab Saudi adalah hal yang wajar terjadi. Dia mengatakan hal itu bisa terjadi karena luasnya wilayah Saudi dan panjangnya perbatasan dengan Yaman.

"Betapapun canggihnya sistem pertahanan udara berlapis yang dimiliki, pasti akan ada satu serangan yang berhasil lolos," ujarnya seraya mencatat bahwa setiap serangan yang berhasil terdapat puluhan upaya serangan Houthi yang telah digagalkan.