Analis kebijakan keamanan dan pertahanan, Wolfgang Pusztai, mengatakan fokus utama sistem pertahanan rudal balistik Arab Saudi adalah menangkal ancaman dari arah Iran. Namun, seiring meningkatnya serangan dari kelompok Houthi, dia menilai kemungkinan besar Saudi kini mengalihkan sebagian sistem pertahanan tersebut untuk menghadapi ancaman dari arah Yaman.
Selain itu, terdapat pula kabar soal masalah persediaan rudal pencegat. Arab Saudi, bersama banyak sekutu regional dan global AS, sedang menghadapi kendala akibat terbatasnya stok amunisi Patriot dan THAAD.
Persediaan tersebut terkuras dengan cepat oleh AS dan sekutunya selama bulan-bulan awal perang melawan Iran. Bulan lalu, Riyadh dilaporkan telah menghubungi sejumlah negara sahabat untuk mengerahkan sistem pertahanan udara atau memberikan dukungan lain guna membantu menangkal serangan dari kelompok Houthi.
Meski sejumlah serangannya menembus Saudi, kelompok Houthi dilaporkan menghadapi kendala berat. Kelompok ini menghadapi embargo senjata yang dimandatkan PBB serta blokade bertahun-tahun oleh Arab Saudi sambil bertempur di berbagai daerah di seluruh Yaman.
"Secara militer, koalisi pimpinan Arab Saudi lebih unggul, namun Houthi masih mampu mendominasi pemberitaan melalui serangan sesekali terhadap Arab Saudi. Sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia dan negara ekonomi anggota G20, Arab Saudi memikul tanggung jawab global yang membuat serangan semacam itu mendapat sorotan luar biasa," ujar Obaid.
Jumlah pasti persenjataan rudal Houthi tidak diketahui sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan kelompok tersebut untuk terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Pada saat yang sama, Houthi juga terlibat dalam perang darat sengit di mana rudal dan pesawat nirawak (drone) turut digunakan oleh kelompok yang didukung Iran itu.
Obaid mengatakan operasi udara Arab Saudi di Yaman sangat berfokus pada penargetan gudang rudal, instalasi bawah tanah, dan fasilitas produksi drone milik kelompok tersebut. Operasi ini disebut menimbulkan kerusakan hebat pada kemampuan militer Houthi.
Sementara Pusztai mengatakan Houthi kemungkinan hanya memiliki sisa rudal balistik jarak pendek dalam jumlah terbatas. Mereka diprediksi tidak akan mampu melancarkan serangan saturasi, yaitu menembakkan banyak rudal dan drone secara serentak ke arah target, seperti di Arab Saudi.
Sebaliknya, mereka mungkin akan berfokus menembakkan rudal satu per satu ke sasaran sipil yang pertahanannya lebih lemah demi memaksimalkan dampak strategis serangan tersebut, yakni mengganggu lalu lintas penerbangan sipil.