Kedua, ekonomi. Kelas menengah - bantalan utama pembiayaan pendidikan - menyusut dari 57,33 juta jiwa (2019) menjadi 47,85 juta (2024).

Sembilan setengah juta orang turun kelas. Hampir separuh penduduk kini berada pada posisi rentan. Konsekuensinya langsung terasa di gerbang pesantren: orang tua menghitung setiap rupiah sebagai investasi hidup dan mati.

Mereka tak lagi hanya bertanya apakah anaknya akan menjadi saleh. Mereka bertanya apakah anaknya akan selamat, sehat, dan sanggup menghidupi dirinya kelak.

Ketiga, generasi. Gen Z berjumlah 74,93 juta jiwa. Dua pertiga dari mereka telah menjadi pengadopsi kecerdasan buatan. Saya ingin menyampaikan ini terus terang kepada para kiai dan pengasuh: institusi yang menolak mengintegrasikan teknologi akan dianggap usang oleh santrinya sendiri.

Di tengah semua itu, ada temuan yang melegakan. Peran agama tetap dipandang sangat penting oleh lebih dari 60% populasi di semua generasi. Pijakan spiritual bangsa ini tidak goyah. Orang tua tidak sedang meninggalkan pendidikan agama.

Yang berubah adalah syaratnya. Sebanyak 79,6% orang tua menginginkan kombinasi pendidikan umum dan agama; hanya 11,9% yang menginginkan pendidikan murni agama.

Tiga ilmu yang paling diinginkan: komputer dan digitalisasi, ekonomi, dan sains. Kurikulum umum kini prasyarat, bukan tambahan.

Lalu ada temuan yang harus kita hadapi dengan dada terbuka. Ketika orang tua ditanya apa yang membuat mereka membatalkan pendaftaran anaknya, jawaban teratas bukan soal kurikulum. Sebanyak 69% menjawab: takut kekerasan dan perundungan. Sebanyak 61,8%: takut pelecehan.

Saya tidak akan berlindung di balik kalimat "itu hanya oknum". Sehebat apa pun kurikulum agama yang kita tawarkan, satu insiden kekerasan cukup untuk membuat orang tua berpaling.

Fasilitas yang paling mereka idamkan hari ini pun bukan gedung megah, melainkan layanan kesehatan, perpustakaan, MCK bersih, dan akses internet. Pesannya jelas: orang tua menitipkan anaknya kepada kita untuk dijaga, sebelum untuk diajar.