Ari Dwipayana menilai keistimewaan Kidung Bhuwana Winasa terletak pada keberanian pengarangnya merekam sejarah tanpa selalu membungkusnya dalam narasi kepahlawanan dan kejayaan.
Karya sastra ini justru menghadirkan kenyataan pahit, kelam, bahkan suram dari perjalanan kerajaan-kerajaan Bali dan Lombok.
βBarangkali kepada kehancuran kita justru lebih banyak berguru dibandingkan kepada kejayaan. Sebab, kejayaan sering membuat manusia lupa diri, sedangkan kehancuran mengingatkan manusia pada keterbatasan, kesalahan, dan akibat dari pilihan-pilihan yang diambilnya,β ungkap Ari Dwipayana.
Ari Dwipayana menegaskan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Kidung Bhuwana Winasa juga memiliki pesan kemanusiaan yang melampaui kepentingan sejarah lokal Bali.
Peperangan yang melibatkan kerajaan-kerajaan Bali, Lombok, dan kekuatan kolonial Belanda meninggalkan penderitaan yang mendalam.
Tragedi tersebut merupakan bagian dari sejarah kekerasan yang harus dikenang, bukan untuk mewariskan kebencian, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga perdamaian.