Oleh karena itu, Ari berharap Kidung Bhuwana Winasa tidak berhenti sebagai manuskrip yang memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga dihidupkan kembali melalui penelitian, transliterasi, penerjemahan, pendidikan sejarah, serta pengembangan karya seni dan kebudayaan.

Sebagai Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ari Dwipayana menegaskan pentingnya menjaga tradisi sastra sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan peradaban.

β€œTanpa Kidung Bhuwana Winasa karya kawi-wiku Ida Pedanda Ngurah, kita mungkin akan mengalami amnesia sejarah. Kita bisa saja terus membanggakan kejayaan masa lalu, tetapi melupakan kesalahan, perpecahan, dan kehancuran yang pernah dialami para leluhur,” katanya.

Pengakuan UNESCO ini harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru bahwa Bali bukan hanya perlu menjaga keindahan alam dan keluhuran budayanya, tetapi juga harus merawat ingatan sejarahnya. Sebab, bangsa yang kehilangan ingatan sejarah akan mudah mengulangi kesalahan yang sama, katanya.

β€œDari Bhuwana Winasa, dari dunia yang pernah mengalami kehancuran, kita belajar tentang pentingnya persatuan, kemanusiaan, dan perdamaian. Itulah warisan kebijaksanaan yang harus kita teruskan kepada generasi mendatang,” kata Ari Dwipayana