Semua pihak menyadari ini bukan sekadar soal impor-ekspor barang dan jasa atau bahkan angka-angka dalam neraca keuangan. Perselisihan antara dua negara ekonomi terbesar dan kedua terbesar di dunia ini besar pengaruhnya pada dimensi politik global.
"Perekonomian China sedang melemah. Perusahaan-perusahaan khawatir akan kelangsungan bisnis mereka yang perlu segera merambah pasar luar negeri," kata seorang peserta asal dialog China yang ingin tetap anonim. Selama beberapa dekade, dia memimpin sebuah BUMN China cabang Eropa di DΓΌsseldorf.
Regulasi pasar di AS dan Uni Eropa kini sama ketat dan tidak membedakan. Di sini, pertimbangan ideologis turut berperan.
"Selama AS masih berseteru dengan China, UE tidak akan bersedia bekerja sama dengan kami jika hal itu bertentangan dengan kepentingannya sendiri."
Salah satu contoh spesifik ialah mobilitas listrik. UE berupaya melakukan transisi mobilitas listrik dan ingin mengurangi secara drastis emisi CO di sektor transportasi.
Namun, Brussel menuntut pengenaan tarif tambahan terhadap mobil listrik murah dari China. Hal itu karena UE menduga adanya keunggulan kompetitif akibat subsidi pemerintah yang tinggi. China membantah hal ini.
Produsen mobil Jerman, VW dan BMW, menolak tarif tersebut karena khawatir akan terjadi penurunan penjualan akibat tindakan balasan dari China. Mercedes juga memperingatkan agar tidak terburu-buru menerapkan tarif masuk tersebut.
Posisi AS bahkan lebih tegas. "Nol mobil listrik China," kata Presiden AS Donald Trump pada pertengahan September setelah kunjungannya ke Irlandia, salah satu negara anggota UE.
"Eropa sangat menderita karenanya. Dengan tarif 100 hingga 150 persen, sejauh ini saya telah mencegah masuknya mobil-mobil China," jelas Trump.
'China Shock' yang kedua telah terjadi di Eropa, kata Ursula von der Leyen selaku Presiden Komisi Eropa. 'China Shock' pertama terjadi 25 tahun silam saat China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), ketika produk-produk murah buatan China 'membanjiri' pasar dunia.