NADIKABAR.COM — Amerika Serikat menilai kecil kemungkinan China menginvasi Taiwan sebelum tahun 2028. Perkiraan itu merujuk pada perintah Presiden China Xi Jinping kepada militernya agar merampungkan persiapan invasi hingga 2027, jika diperlukan.

Kepada kantor berita Reuters, dua pejabat Amerika mengatakan ada dua alasan di balik kendurnya rencana tersebut. Pertama, kampanye antikorupsi Partai Komunis China yang ikut menyasar petinggi militer. Kedua, pemilu Taiwan pada 2028 yang diharapkan melahirkan pemerintahan yang lebih kooperatif di Taipei.

Beijing dipercaya akan semakin mempertimbangkan invasi militer, jika Partai Progresif Demokratik (DPP), yang berkuasa sejak 2016, mencatat masa jabatan keempat berturut-turut. Terlebih jika Presiden Taiwan saat ini, Lai Ching-te, kembali terpilih, kata para sumber tersebut.

"Kalau itu terjadi, saya kira 2028 bakal menjadi tahun yang cukup serius," ujar salah satu pejabat Amerika. Seperti sumber lainnya, dia berbicara dengan syarat kerahasiaan.

Lai mulai menjabat dua tahun lalu. Dia termasuk pemimpin Taiwan yang berani mewacanakan kemerdekaan, meski sikap resmi Taipei yang pro status quo. Sikapnya kerap membuat Beijing berang.

Republik China alias Taiwan didirikan kaum nasionalis Kuomintang yang terusir dari wilayah daratan usai kalah perang dengan Partai Komunis. Bagi Beijing, pulau di seberang selat itu adalah bagian tak terpisahkan. Namun, Taiwan dengan tegas hanya rakyat yang berhak menentukan masa depan mereka.

Penilaian ini, yang sebelumnya belum pernah dilaporkan, memperbarui pemahaman yang selama bertahun-tahun beredar di kalangan pejabat Amerika: Xi ingin militernya siap untuk kemungkinan merebut Taiwan pada 2027, bertepatan dengan satu abad berdirinya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

China tak pernah menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk mengendalikan Taiwan. Namun Beijing juga tidak pernah secara terbuka mengonfirmasi adanya perintah agar militernya siap pada 2027.

Sementara Departemen Pertahanan Amerika Serikat menolak berkomentar.

Kedutaan Besar China di Washington dan kantor perwakilan Taiwan di Washington juga belum menanggapi permintaan komentar.

Dalam pidatonya pekan ini, Xi menyinggung Taiwan dan berbicara mengenai upaya mendorong perkembangan damai hubungan kedua sisi Selat Taiwan untuk mencapai "penyatuan kembali".