Dengan total populasi pekerja seperti itu, perputaran uang juga tentunya tidak sedikit. Misalnya di tahun 2025 saja dengan populasi pekerja mencapai 86.804 orang, estimasi perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp 499,1 miliar tiap bulan, atau setara Rp 5,9 triliun per tahun.
Angka sebesar itu bukan hanya nominal statistik. Ia menciptakan kebutuhan harian yang tidak bisa dipenuhi kawasan industri sendirian.
"Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios Umum (648), dan Warung Makan (591)," ucap Head of Media Department PT IMIP Dedy Kurniawan.
"Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp 300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas," sambungnya.
Tak jauh dari Bubur Ayam Bintang 14, menyusuri Jalan Trans Sulawesi menuju Desa Fatufia, aroma nasi kuning pun menjadi penanda pagi bagi para pekerja untuk memulai aktivitas.
Di sanalah Nursia Asis (45), yang akrab disapa Mak Indah, menanti karyawan yang hendak berangkat atau baru pulang shift malam.
Nasi kuning racikannya memang sangat digemari di kalangan 'helm kuning' (istilah yang disematkan bagi para pekerja IMIP karena mayoritas menggunakan pelindung kepala berwarna kuning).
Harganya sangat terjangkau, porsinya melimpah, serta cita rasa lauknya yang terjaga sejak Mak Indah merintis usaha pada Januari 2014 silam.
Berkat konsistensinya, usaha rumahan ini mampu menghabiskan puluhan kilogram beras setiap hari dan mendatangkan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.
Meski warung makan di sekitar IMIP kian banyak dan ada yang buka 24 jam, Mak Indah tidak merasa tersaingi. Ia menganggap rezeki sudah ada yang mengatur.
Mak Indah bahkan sering dimintai resep dan tips berjualan oleh pedagang lain, serta tak segan melontarkan candaan ringan kepada pelanggan.