"Pada saat pelayaran dari Nunukan ke Parepare ini, di laut sih masih tenang. Maksudnya masih daya nampaknya masih bagus. Tapi pas mendekati daratan, nah itu baru nampak kabut asap yang tebal," tuturnya.
"Jadi, pada saat kami melewati daerah Majene dan menuju, itu masih nampak agak gelap, tapi masih bisa diatasi," ujarnya.
Menghadapi tantangan jarak pandang yang terbatas, pihak KM Pantokrator mengandalkan perangkat navigasi elektronik secara penuh. Seluruh peralatan darurat dan pemantau di atas kapal langsung disiagakan maksimal demi keselamatan pelayaran.
"Kita cuma mengutamakan menyalakan radar navigasi, navigasi-navigasi yang ada. Semuanya navigasi diaktifkan untuk mengatasi bagaimana bernavigasi dengan baik," tegas Ashar.
Selain mengandalkan pemantauan radar, jalinan komunikasi intensif antar-kapal di sekitar perairan juga terus dipertahankan. Langkah ini sangat krusial guna menghindari risiko bahaya tabrakan di tengah lautan.