Ia menilai, Bali memiliki nilai-nilai kehidupan yang selaras dengan prinsip pariwisata regeneratif, terutama keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Karena itu, pengembangan pariwisata perlu mempertimbangkan manfaat kunjungan wisatawan bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya, serta keberlangsungan lingkungan.

Winastra menegaskan, ASITA Bali memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan tersebut karena biro perjalanan wisata berinteraksi langsung dengan wisatawan dan memiliki peran dalam menentukan destinasi yang dikunjungi, aktivitas yang dilakukan, serta produk wisata yang dipilih.