Seperti yang telah diulas dalam Kabar Sore edisi Kamis (27/8) lalu, masifnya kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut bahkan telah mengganggu kesehatan warga. Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Kesehatan RI, kasus ISPA bahkan meningkat hingga 78%.

Guna mengurangi risiko kesehatan, sejumlah sekolah, baik di wilayah Kalsel maupun Kalbar, mengambil kebijakan sekolah daring atau menggeser jam belajar. Hal ini dilakukan agar paparan asap terhadap siswa dapat tereduksi.

Melihat kondisi yang tidak kunjung membaik, Jepang merespons permintaan bantuan Pemerintah RI dalam rangka penanganan karhutla di wilayah Kalimantan. Menteri Pertahanan (Menjan) Jepang Shinjiro Koizumi, dikutip dari NHK, mengirimkan tiga helikopter angkut jenis CH-47 berikut 600 personel Pasukan Bela Diri Jepang (SDF).

Sementara itu, dari dalam negeri, pemerintah melalui berbagai lembaga bersama relawan terus melakukan segala upaya untuk menekan penyebaran api. Warga di beberapa wilayah yang berdekatan dengan penyebaran api juga terus menjaga agar kebakaran tidak merambah hingga permukiman.

Hingga saat ini, sejumlah wilayah masih terus menantikan dukungan cuaca. Sebabnya, awan hujan masih jarang melewati wilayah-wilayah tersebut. Membaca situasi yang belum kondusif, warga di Pontianak pun secara khusus berdoa agar hujan turun di wilayah mereka. Seperti ditulis detikKalimantan, masyarakat melaksanakan salat istisqa untuk memohon hujan di tengah kemarau panjang dan kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).