Artinya: "Maha Suci Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa."

Diterangkan dalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh as-Sunnah karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi terjemahan Ahmad Tirmidzi dkk, waktu pelaksanaan sujud sahwi dapat disesuaikan berdasarkan kondisi yang dialami saat salat:

Dilakukan apabila ada rukun atau bagian salat yang tertinggal, seperti lupa membaca tasyahud awal. Hal ini merujuk pada hadis Abdullah bin Buhainah RA,

"Setelah Nabi menyelesaikan salatnya, beliau sujud dua kali. Setiap kali akan sujud, beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu salam setelah selesai." (HR Bukhari)

Dilakukan apabila terjadi kelebihan rakaat atau keraguan jumlah rakaat. Didasarkan pada riwayat Abu Hurairah RA dan Imran bin Hushain RA.

Petunjuk mengenai keraguan jumlah rakaat ini juga tertuang tegas dalam sabda Nabi SAW:

"Jika salah seorang dari kalian bimbang dalam salat dan tidak tahu apakah sudah salat tiga atau empat rakaat, maka buanglah keraguan tersebut dan ambillah yang diyakini. Kemudian, pada akhir salat, lakukan dua sujud sahwi sebelum salam. Jika ternyata salatnya lima rakaat, sujud sahwi itu akan melengkapi salatnya. Namun, jika salatnya sudah empat rakaat, sujud sahwi tersebut membuat setan marah." (HR Muslim dan Ahmad)