NADIKABAR.COM — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan relokasi secara bertahap terhadap kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok di Arosuka, Sumatera Barat, akibat ancaman bencana banjir bandang yang berpotensi berulang.

"Khususnya kawasan perkantoran pemerintahan Kabupaten Solok, perlu dievaluasi secara menyeluruh. Apabila hasil kajian menunjukkan lokasi berada pada jalur aliran utama atau zona pengendapan material, maka relokasi secara bertahap ke lokasi yang lebih aman perlu menjadi prioritas mitigasi jangka menengah dan panjang," kata Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Menurut dia, rekomendasi teknis tersebut dikeluarkan setelah tim penyelidik melakukan kajian tanggap darurat pascabencana banjir bandang yang menerjang Kawasan Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok pada 21 September 2026 lalu.

Kompleks perkantoran Pemkab Solok, jaringan jalan utama, dan fasilitas pelayanan publik dilaporkan berada di kawasan lembah yang terhubung secara geomorfologis dengan daerah aliran sungai dari lereng barat Gunung Talang.

Sebagaimana hasil evaluasi Badan Geologi, kata dia, infrastruktur strategis yang berada di alur aktif daerah aliran sungai (DAS) tersebut memiliki tingkat ancaman dan risiko bencana yang cukup tinggi jika terjadi hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu.

Untuk itu pula, Badan Geologi meminta Pemerintah Kabupaten Solok segera menetapkan zona larangan atau pembatasan pemanfaatan ruang pada alur sungai aktif, pertemuan lembah, serta kipas aluvial di sekitar Kawasan Arosuka.

Dia menambahkan bahwa selain kompleks perkantoran, evaluasi keselamatan juga perlu dilakukan terhadap fasilitas kesehatan, jalan utama Solok-Padang, jembatan, serta jaringan utilitas publik yang masih beroperasi di lokasi rawan.

"Menyelaraskan hasil kajian geologi ini ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) guna menekan risiko jatuhnya korban jiwa dan kerugian infrastruktur di masa depan," kata dia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melaporkan banjir bandang yang dipicu hujan berintensitas tinggi pada Senin (21/9) malam ini menelan korban jiwa dan luka-luka, yakni dua orang meninggal dunia, dua orang luka berat, serta 12 orang luka ringan.

Dampak kerusakan fisik mencakup 18 unit rumah rusak berat, 11 unit rumah rusak sedang, 41 unit rumah rusak ringan, empat unit rumah terendam, serta tiga unit rumah terancam roboh.

Selain merusak permukiman warga, terjangan arus banjir bandang juga memutus aksesibilitas transportasi dan fasilitas publik di wilayah setempat. Sampai dengan 2 Oktober sebanyak 542 warga penyintas banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, masih bertahan di lokasi pengungsian.