"Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC," kata Seto, dilansir BMKG, Selasa (20/10/2026).

Seto menegaskan, penyemaian dry ice berbeda dari penyemaian awan untuk memicu hujan. Dalam operasi ini, BMKG menargetkan lapisan inversi yang menahan asap serta mengintervensi lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas. Metode ini menjadi alternatif ketika kondisi langit cenderung kering dan awan potensial untuk disemai terbatas.

BMKG mengevaluasi keberhasilan intervensi dry ice melalui sejumlah indikator, terutama peningkatan jarak pandang (visibility) dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5. Kedua parameter tersebut digunakan untuk menilai perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah terdampak, termasuk kawasan sekitar bandar udara.