Seperti di Atlantik, peningkatan wind shear di kawasan ini dapat mengganggu atau menunda pembentukan badai. Menurut Fontan, kondisi tersebut mengurangi risiko bagi negara-negara di Afrika timur, seperti Madagaskar dan Mozambik.
"Dalam hal keseluruhan aktivitas siklon tropis di Samudra Hindia bagian barat daya, terdapat hubungan nonlinier, atau berbentuk 'lonceng', dengan ENSO," kata Fontan, seraya menyoroti El Nino dan fase kebalikannya. "Ketika ENSO bergerak menuju salah satu titik ekstremnya—El Nino yang kuat atau La Nina yang kuat—aktivitas siklon tropis di kawasan ini cenderung berada di bawah normal."
El Nino-Osilasi Selatan merupakan fenomena alam dan tidak disebabkan oleh perubahan iklim. Seperti dikatakan Rosencrans, "interaksi antara El Nino atau La Nina dan perubahan jangka panjang hanyalah salah satu bagian dari apa yang membuat musim hurikan menjadi aktif atau tidak aktif."
Salah satu faktor lainnya adalah udara kering dan berdebu yang bergerak dari Gurun Sahara menuju Atlantik. Kondisi ini juga dapat menekan pembentukan hurikan.
Namun Fontan mengatakan dampak El Nino yang sangat kuat, ditambah efek pemanasan akibat perubahan iklim yang dipicu pembakaran bahan bakar fosil, tengah menciptakan kondisi bagi cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa bulan mendatang.
"El Nino terjadi di dunia yang semakin hangat, dan ini dapat memperkuat sejumlah dampaknya, termasuk panas ekstrem, hujan lebat, dan kekeringan," katanya kepada DW. Sejumlah prakirawan, termasuk Met Office Inggris, telah mengatakan bahwa gabungan dampak El Nino dan perubahan iklim dapat memecahkan rekor suhu panas pada 2027.
Laporan baru dari Climate Impact Lab yang berbasis di University of Chicago memperkirakan panas ekstrem dapat menyebabkan hampir setengah juta kematian tambahan di seluruh dunia selama periode El Nino ini, terutama di negara-negara Global South.
"Kita sudah melihat gangguan dan kehancuran yang disebabkan oleh kekeringan dan banjir, dan kami memperkirakan dampak ini akan memburuk seiring menguatnya El Nino," kata Celeste Saulo, Kepala WMO, pada awal September. Pernyataan itu menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan organisasi kemanusiaan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris