Perlu ditegaskan di sini: klaim populer bahwa kemampuan empati semacam ini "dikendalikan oleh neuron cermin (mirror neuron)" sering dilebih-lebihkan dalam media populer. Sistem neuron cermin memang ada dan diteliti dalam konteks peniruan gerakan dan pemahaman aksi orang lain, tetapi mengaitkannya secara langsung dengan "kemampuan berempati seorang pemimpin" adalah simplifikasi yang belum sepenuhnya didukung bukti ilmiah yang kuat. Yang lebih aman untuk dikatakan: kemampuan membaca ruang sosial melibatkan jaringan otak yang kompleks, dan variasinya antarindividu memang nyata - apa pun mekanisme molekulernya.
Bukan nasib, tapi kebiasaan yang bisa dilatih
Poin yang paling penting untuk disampaikan ke publik, dan juga ke pejabat itu sendiri: pola respons otak ini bukan sesuatu yang tetap yang tak bisa diubah. Otak manusia memiliki neuroplastisitas - kemampuan untuk membentuk pola baru lewat pengulangan dan latihan sadar. Pejabat yang secara konsisten berlatih menahan jeda sebelum menjawab, berlatih teknik menenangkan diri sebelum tampil di depan publik, atau dibimbing oleh pelatih komunikasi yang baik, pada dasarnya sedang melatih "otot" pengendalian diri di korteks prefrontalnya.
Ini juga berarti: gaya komunikasi buruk seorang pejabat bukan alasan untuk dimaafkan begitu saja sebagai "memang wataknya", tapi juga bukan cap permanen yang tidak bisa berubah. Ada ruang untuk perbaikan - asalkan ada kemauan dan latihan yang konsisten, bukan sekadar arahan tim humas untuk "lebih hati-hati bicara".
Ketika kita menonton seorang pejabat kehilangan kendali di depan kamera, atau sebaliknya, tampil tenang di tengah tekanan luar biasa - seperti yang tampak, menurut publik, dari reaksi Purbaya begitu menerima kabar pencopotannya sendiri - yang sebenarnya kita saksikan adalah pertarungan singkat antara sistem rem (korteks prefrontal) dan sistem alarm (amigdala) di dalam otaknya, dimodifikasi oleh kebiasaan, latihan, dan kondisi psikologis saat itu. Memahami ini tidak membuat kita harus memaklumi setiap ucapan buruk pejabat publik, tetapi setidaknya membantu kita menilai secara lebih adil: mana yang benar-benar cerminan karakter, dan mana yang sekadar produk dari otak yang sedang bekerja di bawah tekanan. Soal memaafkan, atau tidak memaafkan isi ucapannya, tentu itu hal lain.