NADIKABAR.COM — Senin siang, 14 September 2026, Purbaya Yudhi Sadewa masih duduk di kursi Menteri Keuangan, memimpin rapat gabungan bersama DPD RI, Bappenas, dan Bank Indonesia di Gedung DPD, Senayan - membahas Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2027 dan Nota Keuangan. Di tengah pemaparannya, pimpinan rapat tiba-tiba menyela: ada telepon yang perlu diperiksa Purbaya. Rapat pun diskors sejenak.

Purbaya menerima panggilan itu sambil berkata singkat, "Iya, siap-siap. Saya masih di DPD, Pak," lalu beberapa kali membungkukkan badan, dan meninggalkan gedung. Belakangan ia mengonfirmasi bahwa penelepon itu adalah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Sore harinya, publik baru tahu: posisi Menteri Keuangan berganti dari Purbaya Yudhi Sadewa dan beralih ke Suahasil Nazara.

Yang membuat momen ini menyebar luas bukan cuma soal siapa yang naik dan siapa yang turun, melainkan caranya: seorang menteri diberi tahu tentang pencopotannya sendiri lewat telepon (persepsi publik, salahsatunya komentar keras dari Profesor Jimly Ash-shidiqie) , di sela rapat kenegaraan. Sebagian orang menyoroti ini sebagai potret betapa kabar besar sekalipun kadang bisa datang dengan cara yang sangat ringkas dan impersonal di lingkaran kekuasaan. Wallahu a'lam.

Menariknya, Purbaya sendiri selama menjabat dikenal punya gaya komunikasi yang jauh dari kata baku - blak-blakan, kerap mengomentari kementerian lain secara terbuka, sampai dikritik oleh sejumlah pihak karena pola bicaranya dianggap membuka celah bagi pihak yang tidak suka dengan pemerintah. Ironisnya, di menit-menit terakhirnya sebagai menteri, ia justru menunjukkan reaksi yang sangat terkendali: tidak menginterupsi rapat secara dramatis, tidak melempar pernyataan keras ke wartawan yang sudah menunggu, hanya membungkuk sopan dan pergi.

Dua fase ini - gaya bicara yang selama setahun terakhir kerap "meledak" secara terbuka, versus momen krisis pribadinya sendiri yang dijalani dengan tenang - adalah ilustrasi baik untuk membahas pertanyaan yang lebih besar: dari mana sebenarnya gaya komunikasi seorang pejabat berasal? Apakah murni watak, atau ada mekanisme otak yang ikut menentukan kapan seseorang meledak dan kapan ia mengerem diri?

Korteks prefrontal: "rem" yang bekerja keras

Bagian otak yang paling sibuk saat seorang pejabat berbicara di depan publik adalah korteks prefrontal - area di bagian depan otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif: menyaring kata, menimbang konsekuensi, menahan impuls untuk menjawab spontan. Inilah "rem" yang membuat seorang pejabat berhenti sepersekian detik sebelum menjawab pertanyaan sensitif.

Ini bukan hal baru dalam neurosains; peran korteks prefrontal dalam regulasi emosi dan pengambilan keputusan sosial sudah cukup mapan dalam literatur. Yang lebih menarik untuk didiskusikan adalah: kapasitas "rem" ini tidak konstan. Ia melemah saat lelah, saat tertekan waktu, atau saat berhadapan dengan pertanyaan yang menyerang wilayah yang dianggap mengancam - reputasi, jabatan, atau rasa aman diri.

Amigdala dan gaya bicara yang berubah di bawah tekanan Ini yang menjelaskan mengapa pejabat yang sehari-hari terlihat kalem bisa tiba-tiba terdengar defensif atau bahkan menyerang balik saat disudutkan. Amigdala - pusat deteksi ancaman di otak - bisa "mengambil alih" sebagian kendali saat seseorang merasa terpojok, membuat respons menjadi lebih cepat tapi kurang tersaring oleh korteks prefrontal. Istilah populer untuk ini adalah amygdala hijack, sebuah konsep yang sudah lama beredar dalam psikologi populer meski mekanisme neurobiologis persisnya masih terus diteliti dan sebaiknya tidak dipahami sebagai penjelasan tunggal dan pasti untuk setiap ledakan emosi di depan publik.

Konferensi pers yang memojokkan, sorotan media yang intens, atau pertanyaan beruntun yang menuduh - semua ini adalah kondisi yang secara teoretis meningkatkan beban pada sistem deteksi ancaman ini. Hasilnya kita lihat sebagai "blunder komunikasi": kalimat yang lepas kontrol, nada yang meninggi, atau justru kebisuan yang canggung.

Membaca ruang, bukan sekadar bicara

Ada juga dimensi lain: kemampuan membaca situasi sosial dan menyesuaikan gaya bicara terhadap audiens. Sebagian pejabat mampu berbicara berbeda di depan buruh pabrik dibanding di depan forum internasional, tanpa kehilangan keaslian pesan. Kapasitas ini melibatkan jaringan otak yang mendukung social cognition - kemampuan memahami perspektif dan kondisi emosional orang lain.

Perlu ditegaskan di sini: klaim populer bahwa kemampuan empati semacam ini "dikendalikan oleh neuron cermin (mirror neuron)" sering dilebih-lebihkan dalam media populer. Sistem neuron cermin memang ada dan diteliti dalam konteks peniruan gerakan dan pemahaman aksi orang lain, tetapi mengaitkannya secara langsung dengan "kemampuan berempati seorang pemimpin" adalah simplifikasi yang belum sepenuhnya didukung bukti ilmiah yang kuat. Yang lebih aman untuk dikatakan: kemampuan membaca ruang sosial melibatkan jaringan otak yang kompleks, dan variasinya antarindividu memang nyata - apa pun mekanisme molekulernya.

Bukan nasib, tapi kebiasaan yang bisa dilatih

Poin yang paling penting untuk disampaikan ke publik, dan juga ke pejabat itu sendiri: pola respons otak ini bukan sesuatu yang tetap yang tak bisa diubah. Otak manusia memiliki neuroplastisitas - kemampuan untuk membentuk pola baru lewat pengulangan dan latihan sadar. Pejabat yang secara konsisten berlatih menahan jeda sebelum menjawab, berlatih teknik menenangkan diri sebelum tampil di depan publik, atau dibimbing oleh pelatih komunikasi yang baik, pada dasarnya sedang melatih "otot" pengendalian diri di korteks prefrontalnya.

Ini juga berarti: gaya komunikasi buruk seorang pejabat bukan alasan untuk dimaafkan begitu saja sebagai "memang wataknya", tapi juga bukan cap permanen yang tidak bisa berubah. Ada ruang untuk perbaikan - asalkan ada kemauan dan latihan yang konsisten, bukan sekadar arahan tim humas untuk "lebih hati-hati bicara".

Ketika kita menonton seorang pejabat kehilangan kendali di depan kamera, atau sebaliknya, tampil tenang di tengah tekanan luar biasa - seperti yang tampak, menurut publik, dari reaksi Purbaya begitu menerima kabar pencopotannya sendiri - yang sebenarnya kita saksikan adalah pertarungan singkat antara sistem rem (korteks prefrontal) dan sistem alarm (amigdala) di dalam otaknya, dimodifikasi oleh kebiasaan, latihan, dan kondisi psikologis saat itu. Memahami ini tidak membuat kita harus memaklumi setiap ucapan buruk pejabat publik, tetapi setidaknya membantu kita menilai secara lebih adil: mana yang benar-benar cerminan karakter, dan mana yang sekadar produk dari otak yang sedang bekerja di bawah tekanan. Soal memaafkan, atau tidak memaafkan isi ucapannya, tentu itu hal lain.