Tekanan-tekanan ini bisa melemahkan pemerintahan, mendorong migrasi, dan memudahkan kelompok bersenjata merekrut anggota baru. Di masyarakat yang sudah tidak stabil, faktor-faktor semacam ini bisa mendorong mereka menuju krisis.
Namun, riset CADI mengungkap kenyataan yang mengejutkan. Peningkatan produktivitas pertanian pun tampaknya meningkatkan risiko kekerasan. Mueller mengatakan inti masalahnya bukan sekadar kelangkaan, melainkan perubahan itu sendiri. Krisis iklim dan guncangan lainnya tidak hanya membuat beberapa kawasan semakin miskin, tapi juga menciptakan peluang baru, mengubah nilai lahan, dan sumber daya.
Di beberapa tempat, lahan yang tadinya tidak produktif menjadi lebih subur dan lebih bernilai. Kondisi ini menarik investor dan menimbulkan persaingan atas kepemilikan dan akses.
Sudan, misalnya, diproyeksikan bisa memproduksi lebih banyak pangan seiring perubahan iklim, tapi sementara beberapa kawasan bisa menjadi lebih produktif, kawasan lain mungkin mengalami kerugian, menciptakan kelompok yang diuntungkan dan dirugikan di dalam negeri serta meningkatkan risiko konflik.
Ketidakstabilan yang mengintai ini, kata Mueller, juga berlaku di kawasan-kawasan di mana perubahan produktivitas belum terjadi. "Jika kita tahu bahwa lahan Anda akan menjadi lebih produktif, mungkin saya ingin merebutnya dari Anda hari ini. Itulah tepatnya di mana negosiasi gagal dan di mana kita akan menghadapi kekerasan," katanya.
Bahkan di kawasan yang stabil dan kaya, krisis iklim menciptakan masalah masa depan. Perubahan kondisi untuk budi daya anggur di Eropa, misalnya, sudah memengaruhi petani lokal. Produsen besar anggur bersoda sudah mulai membeli lahan di kawasan pegunungan.
"Lahan itu belum produktif sekarang, tapi mereka sudah tahu di mana panen anggur masa depan akan berada," kata Mueller. "Perusahaan pertanian besar sedang membeli lahan. Ini terjadi di seluruh dunia. Penduduk lokal tersingkir karena produsen besar datang, harga lahan naik, dan mulai terjadi pertikaian atas sesuatu yang masih 20 atau 30 tahun ke depan."
Salah satu temuan paling mencolok dari tim CADI adalah bahwa perubahan pertanian lebih mungkin berujung pada konflik di negara-negara non-demokrasi. Ketika guncangan iklim, kerawanan pangan, dan persaingan atas sumber daya menghantam demokrasi, mereka cenderung punya institusi yang memaksa kepentingan-kepentingan yang bersaing untuk bernegosiasi, bukan bertarung.
"Demokrasi mungkin terlihat menjengkelkan dan berat. Tidak ada yang bergerak secepat yang orang inginkan, tapi itu hal yang luar biasa karena membuat orang berbicara satu sama lain," kata Mueller. "Ada platform untuk negosiasi. Ada institusi yang membantu orang bernegosiasi. Proses terus-menerus mencari solusi itulah yang menjadi inti dari apa yang mencegah konflik."
"Kita tidak cukup memperhatikan ancaman terhadap sumber penghidupan kita," kata Abdullah Fahimi dari lembaga pemikir German Council on Foreign Relations (DGAP). "Ancaman-ancaman ini bisa memicu krisis besar dan menggusur jutaan orang. Kawasan yang paling harus kita perhatikan adalah Asia Selatan dan Sahel, di mana kerentanan iklim dan pertumbuhan penduduk yang cepat berarti jumlah orang yang terdampak bisa melonjak drastis."