Sebulan setelah DW mulai berkomunikasi dengan Omid, seorang perantara menghubungkan kami dengan pembelot berpangkat tinggi lainnya. Pria yang kami sebut Reza itu bekerja di Kementerian Intelijen, badan intelijen Iran.
Seperti banyak orang yang direkrut ke dalam aparat keamanan, Reza berasal dari keluarga religius. Dia menyeringai ketika memperlihatkan kepada DW sebuah foto di telepon genggamnya: dirinya saat masih muda, dengan janggut panjang dan sorban yang lazim dikenakan kalangan taat beragama di Iran.
Menurutnya, banyak kerabatnya masih menduduki posisi penting dalam rezim Iran.
Pada masa-masa awal, dia merupakan pendukung fanatik rezim. Dia terkadang menangis saat berdoa karena merasa sedang mengabdi kepada rakyatnya dan Republik Islam, bahkan "mungkin akan mati sebagai martir demi Islam," katanya.
Reza mengaku perlahan-lahan berbalik menentang rezim setelah menyaksikan tindakan keras terhadap para demonstran. Selama bertahun-tahun, aparat menembak, menangkap, dan memukuli warga Iran yang memprotes memburuknya kondisi hidup serta ketatnya undang-undang "moralitas" di negara itu.
Pada malam 8 Januari, di tengah pemadaman internet yang hampir menyeluruh, pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah warga Iran yang memprotes kelangkaan barang secara luas dan lonjakan inflasi. Skala pembantaian itu perlahan-lahan terungkap ketika gambar-gambar yang mendokumentasikan kekejaman rezim mulai keluar dari negara tersebut.
Ribuan demonstran tewas di berbagai wilayah Iran. Omid dan Reza mengatakan pembunuhan massal itu membuat mereka ngeri. Organisasi-organisasi hak asasi manusia melaporkan bahwa korban mencakup demonstran tak bersenjata yang ditembak ketika terbaring di ranjang rumah sakit.
Kekejaman yang terus berlangsung itulah yang pada akhirnya mendorong mereka berbicara kepada DW.
Omid bersikeras bahwa dia tidak pernah menembaki demonstran ataupun memerintahkan anak buahnya melakukan hal serupa, meskipun DW tidak dapat memverifikasi klaim tersebut.
Ketika didesak, dia mengakui pernah menyaksikan pembunuhan para demonstran.
Reza mengatakan rasa bersalah karena telah "menyia-nyiakan 10, 11 tahun untuk mengabdi pada sistem yang kejam" mendorongnya untuk bersuara, meskipun tindakan itu membahayakan dirinya dan keluarganya.
"Faktanya, ketika lawan Anda adalah rezim yang tidak berpegang pada nilai moral apa pun, Anda harus siap menghadapi segala kemungkinan," katanya.
Omid dan Reza menceritakan keberadaan pusat-pusat komando rahasia yang menjadi simpul utama penindasan demonstrasi. Para pejabat tinggi dari berbagai unit dan badan berkumpul di sebuah ruang pemantauan. Menurut keduanya, layar-layar raksasa di dinding menampilkan siaran langsung dari tak terhitung kamera CCTV yang tersebar di Teheran, ibu kota Iran. Mereka mengatakan ruang-ruang serupa juga terdapat di berbagai wilayah lain.
Aksi pawai demonstrasi juga dipantau dari udara menggunakan drone. Reza mengatakan, "Informasi dari pasukan di lapangan, dari Twitter, Telegram, dan jejaring sosial lainnya, serta informasi yang diperoleh melalui perangkat pengawasan dan penyadapan—semuanya dikumpulkan di sana."
Agen berpakaian sipil kerap menyusup ke kelompok demonstran. Menurut Omid, agen-agen tersebut terkadang digunakan untuk mengalihkan arah pawai ke lokasi tempat pasukan keamanan telah menunggu.
Seorang perwakilan pemimpin tertinggi Iran, kata Omid, memiliki "kebebasan penuh" untuk memerintahkan operasi dari dalam pusat komando sekaligus menentukan "seberapa keras para demonstran harus ditindak".
Ketika polisi reguler tak lagi mampu membubarkan demonstrasi, Omid dan Reza mengatakan, unit-unit elite dari Korps Garda Revolusi Islam dan kepolisian dikerahkan untuk menuntaskan penindakan. Para personel itu kerap berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup balaklava.