Organisasi-organisasi hak asasi manusia telah mendokumentasikan penggunaan senapan mesin otomatis dan semiautomatis, bahkan senapan mesin berat yang dipasang di atas mobil pikap, untuk menumpas demonstrasi.
"Fakta bahwa pasukan keamanan dipersenjatai dengan senjata api berstandar militer yang dirancang untuk situasi pertempuran, tetapi digunakan untuk menghadapi demonstrasi, menunjukkan bahwa pembunuhan para demonstran di negara ini memang disengaja," demikian kesimpulan Raha Bahreini, peneliti Iran di Amnesty International.
Bahreini merupakan penulis laporan terbaru yang menganalisis rantai komando rezim selama demonstrasi 2022, menyusul kematian Jina Mahsa Amini dalam tahanan.
Setelah berbulan-bulan berkorespondensi, Omid menunjukkan kepada DW sebuah lokasi yang dari luar tampak biasa saja di Shahr-e Rey, kawasan pinggiran Teheran: sebuah ruang salat yang terjepit di tim redaksi tempat praktik terapi okupasi dan apotek. Ruang salat itu bernama Beit al Shohada, atau Rumah Para Martir. Namun, menurut Omid, banyak perwira menyebutnya Dakhme, yang berarti ruang pemakaman atau makam.
Omid menjelaskan bahwa para perwira tinggi berkumpul di bawah atap seng bergelombang bangunan Dakhme untuk merancang operasi-operasi di luar prosedur resmi, yang menghindari struktur pemerintahan. Dia mengatakan telah menghadiri beberapa rapat di tempat itu, "tempat keputusan tentang pembunuhan dibuat: ini mesin pembunuh".
Omid berulang kali bersikeras bahwa dia menghadiri rapat-rapat tersebut semata-mata karena diperintahkan oleh atasannya dan tidak pernah terlibat dalam operasi apa pun yang direncanakan di Dakhme. Namun, dia menyebut sejumlah kasus pembunuhan dan penculikan di dalam maupun di luar Iran yang menurutnya direncanakan di sana. DW tidak dapat memverifikasi kasus-kasus tersebut, tetapi menemukan bahwa beberapa orang yang disebut memang meninggal dalam keadaan yang belum terungkap.
Sejumlah pakar yang dihubungi DW mengetahui Dakhme dalam kaitannya dengan upaya pembunuhan terhadap seorang penasihat presiden reformis lebih dari dua dekade silam. Pakar lainnya belum pernah mendengar tentang tempat itu. Tak seorang pun yang diwawancarai DW dapat memastikan apakah fasilitas tersebut masih beroperasi.
Para pakar sepakat bahwa keberadaan fasilitas semacam Dakhme masuk akal. "Republik Islam kemungkinan merasa semakin membutuhkan kelompok-kelompok seperti ini sekarang," kata Miad Maleki, mantan pejabat Departemen Keuangan Amerika Serikat yang hingga belum lama ini merancang program sanksi AS terhadap Iran.
Maleki menambahkan, operasi militer yang direncanakan secara rahasia di Dakhme kemungkinan memungkinkan rezim menyangkal keterlibatannya secara masuk akal apabila terjadi pembunuhan.
Karena kerahasiaan yang menyelimuti Dakhme, sebagian besar uraian berikut hanya bersumber dari kesaksian Omid dan sejumlah kecil gambar yang diperoleh DW tentang upacara keagamaan di dalam bangunan itu.
Menurut Omid, rapat-rapat rahasia biasanya diawali dengan kedok upacara dan ritual keagamaan. Kegiatan itu berlangsung di sebuah aula besar yang kerap dihiasi tirai hijau dan panji-panji keagamaan. Setelah makan malam bersama, hanya anggota lingkaran inti yang tetap tinggal.
Mereka yang bertahan menyerahkan telepon genggam masing-masing untuk disimpan di tempat terkunci. Setelah itu, kata Omid, "para spesialis berpengalaman dari pasukan khusus Iran dan operasi intelijen" membahas pembunuhan serta penculikan hingga larut malam.
"Bagi orang-orang ini, kedudukan seseorang tidak terlalu penting," kata Omid. "Jika mereka menganggap seseorang sebagai ancaman bagi pemimpin tertinggi Republik Islam, mereka menanggapinya dengan sangat serius dan mengambil tindakan."
Setelah setiap operasi, kata Omid, para pria itu kembali menjalankan peran masing-masing dalam aparat keamanan Iran, sampai tiba waktunya mereka berkumpul lagi untuk membela Republik Islam dengan segala cara.
Penerjemahan dari bahasa Farsi: Farhad Payar
Penasihat hukum: Florian Wagenknecht Diadaptasi dari Bahasa Inggris oleh Rizki Nugraha